Tampilkan postingan dengan label Spirit Of Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spirit Of Life. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

KARENA ALLAH MAHA TAHU

Sahabat, begitu banyak hal-hal yang menimpa kita ternyata tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Mungkin sahabat semua pernah mengalaminya, usaha dan ikhtiar pun telah kita maksimalkan, tapi apa daya hasil yang kita peroleh tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan.
Sahabat , boleh jadi kita akan kecewa, menyesali diri, atau bahkan lebih ekstrem lagi ada yang sampai berprasangka buruk atas ketentuan Allah pada kita, ungkapan-ungkapan kekecewaan, keluhan sering kali meluncur dari lisan-lisan kita, kita beranggapan bahwa Allah tidak Adil, Allah tidak menyayangi kita karena hasil yang dicapai tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Sahabat, semoga kita semua terhindar dari sikap yang demikian. Sadarkah bahwa Allah lebih mengetahui skenario yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Yang skenario itu mungkin tidak akan bisa dijangkau oleh akal pikiran kita, kita baru tersadar ketika hari telah berganti, waktu telah berlalu, ternyata hal yang terjadi pada kita mengandung berbagai hikmah yang luar biasa, ternyata kita baru sadar bahwa itulah yang terbaik bagi kita.
Sahabat, sekali lagi Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, akal manusia sangatlah terbatas, tidak mampu mengungkap seluruh hikmah dari ketentuan Allah, boleh jadi apa yang kita inginkan, apa yang kita cintai, apa yang kita sukai ternyata itu buruk bagi kita, begitu juga sebaliknya. Sebagaimana firman Allah “…Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatau padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatau padahal ia amat buruk bagimu,Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al-Baqarah :216).
Sahabat, kita memang punya rencana, Allah pun punya rencana untuk kita, rencana yang terbaik buat kita, walaupun mungkin kita menganggapnya itu sebuah musibah ataupun hal yang tidak kita sukai, tetapi sekali lagi, akal manusia, nalar kita sering dihadapakan akan keterbatasan-keterbatasan yang tidak mampu mengungkap hikmah dibalik itu semua.
Wahai sahabat, kita harus senantiasa siap menghadapi itu semua, mengkondisikan diri kita terhadap hal-hal yang mungkin terjadi di luar perkiraan dan harapan kita. Tugas kita hanyalah menyempurnakan ikhtiar, berdoa, lalu bertawakal kepada Allah, hasil Allah lah yang menentukan.
Boleh jadi Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan sekarang tetapi Allah memberikan apa yang kita butuhkan, Allah lebih mengetahui kebutuhan hamba-hamba-Nya. Sahabat..itulah yang harus kita yakini bahwa semua yang terjadi adalah ketentuan terbaik dari Allah sehingga apapun yang terjadi hati kita senantiasa Ridho dan ikhlas serta lapang dada atas ketentuan Allah.
Sahabat , memang medan berbicara tak semudah medan berkhayal, medan berbuat tak semudah medan berbicara, akan tetapi sahabat marilah senantiasa kita berupaya dengan sungguh-sungguh agar kita senantiasa ridho dan ikhlas serta lapang dada atas segala ketentuan Allah kepada kita, sehingga kita terhindar dari prasangka-parasangka buruk terhadap Allah, yang itu merupakan sebuah perbuatan dosa yang akan mengotori jiwa-jiwa kita
Sahabat, apapun yang terjadi semoga kita senantiasa diberikan kemudahan oleh Allah untuk Ridho dan Ikhlas menerima ketentuan-Nya, karena Sesungguhnya Allah Lebih tahu yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.(top)
Wallahua’lam bi showab.
Read more »

SENYUMMU KEKUATANMU


Sahabat..ketika kepasrahan jiwa kita telah mencapai titik nadzir, keyakinan akan pertolongan Allah yang telah bulat, keyakinan yang mantap bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan, maka tersenyumlah, lapangkanlah dada-dada kita.
Sesungguhnya senyuman akan sangat bermanfaat bagi kita, senyuman yang muncul karena kepasrahan, ketundukan dan keyakinan yang mantap akan pertolongan dari Allah akan membantu kita untuk menikmati hidup ini.
Sungguh dahsyat nya efek dari senyuman itu, senyum tanda ketentraman jiwa, senyum tanda optimisme, senyum tanda kebahagiaan. Apa gunanya kita bermuram durja, apa gunanya kita cemberut, bermuka masam sambil terus menerus menyesali, meratapi ujian atau cobaan yang menghampiri kita,, bukankah dengan seperti itu akan malah menguras tenaga kita, pikiran kita, jiwa-jiwa kita menjadi galau, pikiran kita menjadi kacau dan cuma lelah, lelah dan lelah yang kita dapat. Alangkah ruginya kita ketika kita terlalu mendramatisir kesulitan yang kita hadapi. Kesulitan yang sebenarnya hanya ringan menjadi berat dan menghimpit karena kita terlalu mendramatisirnya, energi kita terkuras untuk mengangkat beban yang sebenarnya ringan
Alangkah indahnya ketika kita mampu menghadapi segala kesulitan dan cobaan itu dengan tersenyum, karena jiwa –jiwa seseorang yang murah senyum akan memacu diri kita untuk dapat menikmati kesulitan, akan mampu mendorong otak kita berpikir jernih untuk menyelesaikan permasalahan. Senyuman akan mampu menjaga stock energy positif kita agar tidak habis terkuras untuk menghadapi permasalahan, karena sesungguhnya ujian dan cobaan itu adalah sebuah keniscayaan. Sahabat..simpanlah energy yang tersisa itu, hematlah dia agar kita mampu bertahan dalam menjalani perjalanan-perjalanan hidup kita.
Sahabat, tersenyumlah karena orang yang murah tersenyum dalam menjalani hidup ini bukan saja orang yang paling mampu membahagiakan diri sendiri, tetapi orang yang paling mampu berbuat, orang yang sanggup memikul tanggung jawab, orang yang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, serta orang yang paling dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.
Sahabat tebarkanlah juga senyummu untuk saudaramu, karena senyummu kepada saudaramu adalah sedekah. Berikanlah sebuah senyum yang penuh ketulusan, senyum yang benar-benar timbul dari hati kita. Seberat apapun permasalahan yang kita hadapi, maka tetaplah tersenyum, tetaplah tebarkan senyummu karena senyummu itu adalah obat dari kesedihanmu. Sebagaimana perkataan abu darda bahwa sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan diriku. Tertawalah dan tersenyumlah dengan wajar, dengan ketulusan, bukan tertawa dan tersenyum tanda kesinisan. Tertawa dan tersenyumlah sesuai kewajaran dan jangan berlebihan karena terlalu banyak tertawa juga akan mematikan hati.
Sahabat…yakinlah bahwa kemudahan itu pasti akan datang, tersenyumlah karena itu adalah tanda keceriaaan, ujung rasa suka cita serta kegembiraan. Tersenyumlah, karena senyummu adalah kekuatanmu, dan tersenyumlah karena harapan itu masih ada.(top)
Wallahua’lam bi showab
Read more »

BERSAMA KESULITAN ADA KEMUDAHAN

Wahai sahabat, pernahkah anda merasakan sebuah keadaan dimana berbagai cobaan datang silih berganti, berbagai musibah datang menerpa, berbagai kesulitan hidup menghimpit jiwa dan menyesakkan dada–dada kita. Pernahkah anda merasakan sebuah keadaan, dimana berbagai upaya, berbagai sarana telah kita tempuh, berbagai ikhtiar dan doa telah kita jalankan, akan tetapi permasalahan itu tak kunjung selesai, hanya tinggal kepasrahan atas kehendak Allah, yang menyelimuti pikiran kita, pernahkah kita mengalaminya?
Itulah dinamika hidup yang sering kita lalui dan kita jalani, roda-roda kehidupan pun akan terus berputar, keadaan akan selalu berubah, kadang diatas, kadang dibawah, begitu juga setiap orang pasti mengalami hal tersebut. Seperti sebuah sunnatullah, setelah lapar ada kenyang setelah haus ada kepuasan, setiap kegelapan akan terang benderang dan setiap kesulitan ada kemudahan. Wahai sahabat, janganlah bersedih, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sebagaimana firman Allah ;”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan ,sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan’(QS. Al-Insyirah:5-6). Rasulullah SAW pun pernah mengalami berbagai cobaan dalam hidupnya, penganiayaan, cacian, pemboikotan pun pernah beliau rasakan, tapi sungguh luar biasa ketabahan beliau dan keoptimisan beliau dalam menyikapi hal itu semua. Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan dalam buku Riwayat Turunnya ayat-ayat suci Al-qur’an berkata, ketika ayat 5-6 surat al-insyirah turun, Rasulullah SAW bersabda; “Bergembiralah kalian semua, karena akan datang bagi kalian kemudahan, kesukaran tidak akan mengalahkan dua kemudahan”. Jadi sahabat, sebagai seorang mukmin kita harus meyakini bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan, ayat diatas memberikan pelajaran bagi kita untuk tidak berputus asa, yakinlah apabila himpitan dan kesulitan itu telah mencapai puncaknya, maka insyaallah ia akan berakhir dan terlampaui dengan hadirnya kemudahan dan kelapangan. Wahai sahabat, setiap anda melihat hamparan gurun sahara yang seolah memanjang tanpa batas, ketahuilah bahwa dibalik kejauhan itu terdapat kebun yang rimbun penuh hijau dedaunan, dibalik itu ada oase-oase yang menyegarkan. Setiap tangisan akan berujung dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa aman, dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian. Sahabat, selalu berprasangka baiklah atas ketentuan Allah terhadap diri kita, karena itulah yang terbaik, janganlah merasa terhimpit sejengkalpun, karena setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baik ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar. Betapapun, hari demi hari akan terus bergulir, tahun demi tahun akan selalu berganti, malam demi malam pun akan datang silih berganti. Meski demikian, yang gaib akan tetap tersembunyi dan Sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya. Dan Allah mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru setelah itu semua. Wahai sahabat, yakinlah bahwa dengan ijin Allah bersama kesulitan itu akan muncul kemudahan.Wallahua’lam bi showab.(top)
Read more »

DOA ADALAH SENJATA KITA

Sahabat, kepada siapakah kita memohon bantuan ketika tertimpa musibah? kepada siapakah kita menggantungkan segala urusan hidup kita? kepada siapakah kita mengadu atas segala lelah, atas segala kegundahan dan kegelisahan yang kita hadapi? siapakah yang layak menjadi tempat bergantung, memohon, meminta dan meratap dari semua makhluk? siapakah yang menjadi tempat tumpuan, siapakah yang menjadi gantungan hati, dan selalu diucapkan oleh lidah manusia? jawabannya adalah hanya Allah yang tiada ilah selain Dia.

Wahai sahabat, berdoalah kepada Allah…kerena doa adalah senjata kita, kerena doa adalah benteng kita dari tipu daya syaithon. Berdoalah kepada Allah baik dikala lapang maupun sempit dalam keadaan mudah maupun sulit. Berdoalah kepada-Nya dengan penuh kepasrahan, dengan penuh ketundukan, menangislah…berharaplah…bertobatlah. Berdoalah kepada Nya dengan penuh kemantapan dan keyakinan,Yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa kita.
Yakinlah ketika kita berdoa, saat itulah keluasan akan anugerah –Nya akan datang, pertolongan dari-Nya akan segera datang, bantuan akan segara nampak serta kemenangan akan segera hadir dalam kehidupan kita.
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ?Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya?” ( QS an-Naml :62)
Dengan doa, Allah akan menolong orang yang tertimpa kesulitan, menolong orang yang didhzalimi, memberi petunjuk kepada orang yang sesat, menyembuhkan orang yang sakit, dan meringankan beban orang yang mendapat cobaan.
Disebabkan oleh doa, Nabi Nuh bersama orang-orang yang beriman bersamanya diselamatkan oleh Allah dan orang-orang kafir ditenggelamkan. Disebabkan oleh doa pula Nabi Yunus selamat dari perut ikan paus, setelah tiga malam berada dalam kegelapannya. Disebabkan oleh doa, kesulitan yang menimpa Nabi Ayyub diangkat oleh Allah, disebabkan oleh doa, Nabi Musa diselamatkan oleh Allah dari Fir’aun dan kaumnya.
Sahabat…doa kita kepada Rabb terhitung sebagai wujud lain dari ibadah. Juga sebagai bukti ketaatan besar yang akan mendatangkan suatau pemberian lebih dari apa yang Anda minta. Seorang hamba yang menemukan nilai indah sebuah doa akan merasa puas, tidak akan bersedih berduka maupun gelisah.
Sahabat..ketika semua harapan kita sudah putus, sudah buntu jangan bingung dan gelisah. Ingatlah Rabb tempat bergantungnya segala sesuatu. Berdoalah kepada-Nya, hilangkan kesombongan kita, mintalah, memohonlah kepada-Nya. Ketika pintu manusia tertutup untuk kita, pintu Allah masih selalu terbuka untuk kita. Allah Maha Dekat, Allah Maha Mendengar, dan Allah Maha Mengabulkan.
Sahabat..kita sebagai hamba yang lemah membutuhkan pertolongan dari Rabb yang Maha Kuat.Kita selalu diperintahkan berdoa kepada-Nya.”Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (Qs.al-Mu’min :60)..
Ketika kita tertimpa bencana, terhimpit akan kesulitan hidup, dilanda musibah maka getarkanlah selalu hati kita untuk mengingat-Nya. Basahi lisan kita dengan dzikir dan doa-doa kita. Janganlah malu untuk meminta kepada-Nya, angkatlah telapak tangan kita, pujilah Allah atas segala limpahan karunia yang diberikan kepada kita, bersholawatlah kepada Rasulullah semoga dengan syafaatnya kita mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat, ungkapkanlah asa-asa kita kepada Allah dengan penuh harap, sampaikan semua permintaan kepada-Nya, hadirkan hati kita, akhiri dengan pujian kepada Allah, dan semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Berbaik sangkalah kepada Robb kita, tunggulah belas kasih-Nya, tetaplah ketuk pintu kasih-Nya, bersabarlah sampai keputusan Allah datang kepada kita. Yakinlah bahwa apa yang diberikan Allah adalah yang terbaik bagi kita,karena Allah Maha Tahu apa yang kita butuhkan.
Sahabat…berdoalah..karena doa adalah senjata ampuh kita, semoga kita diberikan kemudahan untuk ingat dan senantiasa berdoa kepada-Nya baik dikala lapang maupun sempit.Amin.(top)
Wallahua’lam bi showab.
Read more »

Rabu, 12 September 2012

PEMAAF ADALAH SIFAT PARA PEMENANG


Di kisahkan, bahwa sahabat Nabi Abu Bakar As-Sidiq mempunyai seorang kerabat yang karena kemiskinannya maka sahabat Abu Bakar menanggung seluruh biaya hidupnya. Dia adalah sahabat Misthah bin Utsatsah. Akan tetapi ketika muncul sebuah peristiwa  berita dusta terhdap Aisyah ra , Abu Bakar pernah sangat marah terhadap Mistah Bin Utsatsah, karena sahabat ini turut andil  dalam  tesebarnya fitnah itu. Peristiwa ini terjadi ketika kaum muslimin dalam perjalanana pulang dari perang bani mustahaliq. Sampai akhirnya setelah peristiwa itu, Abu Bakar bersumpah” Demi Allah, saya tidak akan membiayainya lagi karena ucapan yang diucapkannya kepada Aisyah”. Abu Bakar bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak akan membiayai lagi Mistah Bin Utsatsah. Allah kemudian menurunkan firmannya : "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya). Orang –orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ QS An-Nur : 22
Ketika dibacakan ayat ini Abu Bakar lalu berkata : “ Demi Allah, sungguh aku ingin mendapatkan ampunan Allah, kemuadian Abu Bakar memaafkan Mistah Bin Utsatsah dan kembali menanggung biaya hidupnya. Mistah Bin Utsatsah seorang muhajirin dan juga ikut berperang dalam perang Badar, akibat perbuatannya dalam menyebarluaskan desas-desus berita fitnah tersebut dikenakan  hukuman dera (haddul qadzaf) sebanyak delapan puluh cambukan. Hukuman dera yang diterima Mistah Bin Utsatsah telah membersihakan dosanya itu.
Sahabat, sungguh mulia akhlak dari Abu Bakar,  beliau memaafkan Mistah Bin Utsatsah, orang yang turut andil akan tersebarnya desas desus yang menimpa putrinya Aisyah ra, padahal Mistah Bin Utsatsah adalah  orang yang selama ini dia tanggung biaya hidupnya. Seperti manusia biasa, Abu Bakar pun marah, bahkan beliau sampai bersumpah untuk tidak membiayai lagi Mistah bin Utsatsah, hingga akhirnya turun ayat dalam QS. An Nur ayat 22. Dalam surat tersebut di jelaskan agar Abu Bakar memaafkan dan berlapang dada, serta tetap memberikan bantuan kepada mistah agar Abu Bakar mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Kisah ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang bersegera memenuhi panggilan Allah untuk memaafkan. Beliau adalah orang yang bersegera tunduk dengan perintah Allah. Beliau tundukkan hawa nafsu enggan memaafkan karena telah tersakiti dan dikhianati, semata-mata mengharapkan ampunan Allah.
Sahabat, bagaimanakah dengan kita? pernakah anda merasa marah dan kesal atas kedhaliman orang lain terhadap diri kita?. Apa yang sahabat rasakan ketika kita mendapatkan cacian, fitnah ataupun perlakuan buruk dari orang yang selama ini kita bantu kesulitannya, kita selesaikan permasalahannya? Secara naluriah mungkin kita akan merasa sangat marah, hati kita menjadi bergejolak, timbul rasa keinginan yang kuat untuk membalas perlakuan orang yang telah mendholimi kita, bahkan bisa jadi seperti apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, kita bersumpah untuk tidak memberikan bantuan ataupun pertolongan kepadanya lagi.
Sahabat, memberi maaf dan berlapang dada seperti Abu Bakar dalam memenuhi  seruan dari Allah dalam surat An Nur:22 diatas bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan keimanan dan ketundukan kepada Allah SWT. Memberi maaf kepada orang yang mendholimi kita padahal orang itu adalah orang yang selama ini kita bantu, bukanlah perkara yang mudah. Butuh sebuah perjuangan untuk menundukkan emosi, dan hawa nafsu agar ia mampu menjadi seorang pemenang. Pemenang dari bentuk dendam dan emosi yang merupakan penyakit-penyakit hati.
Keteladanan Abu Bakar dalam menghadapi Misthah Bin Utsatsah yang masih kerabatnya sendiri, serta salah satu muhajirin dan sahabat yang ikut berperang dalam perang Badr perlu kita contoh. Jika saat ini, orang yang selama ini kita bantu anak-anaknya untuk belajar mengaji, orang yang kita bantu dengan berbagai pelayanan kesehatan gratis, berbagai acara bazaar sembako murah, berbagai bantuan bencana alam, orang yang kita bela hak-haknya, tetapi orang tersebut malah mencaci maki kita, memfitnah kita, mencibir kita, maka maafkan dan berlapang dadalah. Marilah kita tiru Abu Bakar, teruskan lah baksos-baksos itu, teruslah mengajar anak-anak belajar mengaji, teruslah mengajar majelis-majelis taklim, teruslah membela hak-hak kaum muslimin, teruslah cepat dan tanggap dalam membantu korban bencana alam, teruslah memberikan pelayanan kesehatan gratis, teruslah bantu mereka dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya, teruslah seperti itu, agar engkau menjadi pemenang dengan mengharapkan ampunan dari Rabb mu.
Sahabat, teruslah berbuat baik, teruslah menolong, teruslah bersikap baik sekalipun orang yang telah kita bantu mencaci dan mendholimi kita. Maafkan lah dan berlapang dadalah wahai sahabat, karena memberi maaf dan berlapang dada adalah sifat para pemenang, pantaskan diri kita menjadi hamba-hamba yang pemaaf , yakinlah akan janji Allah, bahwa kemenangan itu akan datang.
Wallahua’lam bi showab
Referensi : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy ,Sirah Nabawiyah. Robbani Press, 1999
Read more »

Selasa, 04 September 2012

JANGAN MARAH

Ada sebuah kisah dari seorang ayah bijak yang menasehati anak lelakinya yang suka marah-marah dan temperamental. Suatu pagi si anak diajak ke kandang sapi di samping rumahnya.” Nak, ayo kita tengok kandang sapi kita, sambil tolong bawakan sekarung paku dan jangan lupa bawa palunya”.” Siap yah, paku dan palunya sudah aku siapkan semua”.Bergegaslah ayah dan anak ini menuju kandang sapi di samping rumahnya, setibanya di sana sang ayah mengatakan”Anakku, jika engkau marah maka tanamkan paku di  pagar kandang sapi milik kita ini, semakin engkau marah,pukulah keras-keras paku itu,begitu seterusnya”.
Sejak saat itu, ketika si anak marah-marah kepada orang lain, dia membenamkan satu paku di pagar, semakin ia marah semakin keras ia pukul paku itu. Sebulan kemudian, dengan bangga dia menunjukkan hasil karyanya itu kepada ayahnya. “Ayah, nie hamper semua pagar di kandang sapi kita dah penuh dengan paku-paku yang aku tancap kan, hebat kan?!”. Sang ayah pun hanya tersenyum, sambil berkata “ Baiklah nak, sekarang jika kamu mampu menahan marah, atau bahkan bisa minta maaf kepada orang lain, cabut paku itu satu persatu, sanggup nggak?”.”Oke yah, aku sanggup”jawab si anak.
Sebulan kemudian, ayahnya bertanya”Sudahkah semua paku di cabut?”. Dengan mantab dan bangganya si anak menjawab”Tentu sudah dong yah. Sambil tersenyum, si Ayah mengajak anak laki-laki nya itu semakin mendekat ke pagar sambil berkata “ Nak, memang semua paku yang telah engkau tanam sudah dicabut, tapi lihatlah dengan seksama, bekas-bekas lubang paku itu masih terlihat dengan jelas. Hal itu berarti ketika kita marah, kita menanamkan luka yang dalam di hati orang tersebut, walapun akhirnya kita sudah meminta maaf,hal itu tetap meninggalkan luka hati yang menganga.
………………………………………………………………………………………………
Sahabat, tentunya anda pernah merasakan marah, sebuah rasa yang membuat diri kita tidak nyaman, sebuah rasa yang membuat dada kita seolah-olah sempit , sesak, urat-urat menegang, mata merah, rasa panas seolah-olah  ada bara yang menyala dalam dada kita. Marah adalah tabiat yang pasti ada dalam diri manusia, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimanakah cara kita melampiaskan kemarahan kita, apakah proporsional atau tidak, apakah pas atau tidak.
Kematangan emosi kita akan di uji saat kita mengalami gejolak emosi dan kemarahan, dengan apakah kita melampiaskannya,mampukah kita mengontrolnya?. Kadangkala karena ketidakmampuan kita mengontrol amarah, maka seringlah keluar umpatan-umpatan, tindakan-tindakan dan perangai kasar dari diri kita, dan itu menyakiti orang di sekitar kita. Betapa banyak kasus seorang suami menganiaya istrinya, seorang ayah menganiaya anak nya, seorang anak membunuh orang tuanya, seorang teman melukai sahabatnya, seorang atasan memaki dan mempermalukan bawahannya, itu semua terjadi karena kita kurang bisa mengontrol rasa marah ini. Mengobati luka paku yang telah di tancapkan bukanlah sebuah proses yang mudah, seringkali luka-luka itu menjadi sebuah dendam, menjadi sebuah kebencian yang semakin lama semakin besar, dan hal itu kadang tak cukup hanya dengan meminta maaf ataupun sungkem di hari raya.
Sahabat, sudah sepantasnyalah kita mnyadari bagaimana respon kita menghadapi kemarahan.Sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk mempunyai akhlak yang baik sebagai buah dari keimanan kita. Seorang muslim adalah orang yang mempunyai akhlak terpuji, berhias dengan kesabaran dan rasa malu, berpakaian tawadhu dan kasih sayang kepada sesama. Dalam dirinya terpancar tanda-tanda kejantanan, mampu menahan segala beban, pemaaf, serta mempunyai wajah yang berseri-seri dalam keadaan apapun.
Dan ternyata Rasulullah saw telah memberikan arahan kepada seorang sahabat yang meminta nasehat, dengan sebuah ungkapan dan nasehat yang sanga singkat” Jangan marah!”. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadist: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan, “Bukanlah maksud beliau adalah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kemarahan mempunyai dampak  negatif  terhadap diri kita sendiri dan masyarakat. Dampak negatif ini bersifat fisik, akhlak dan ruhiyah. Ketika kita marah, warna kulit berubah, tekanan darah naik, badan gemetar, gerakan kacau,suara meninggimembentak,mencaci dan boleh jadi mengeluarkan kata-kata yang diharamkan.Bahkan dalam buku Emosi Yang Mematikan, Don Colbert, MD, mengatakan bahwa kemarahan memiliki dampak terhadap munculnya penyakit- penyakit seperti hipertensi, sakit maag, jantung,tremor, dan bahkan kanker. Sedangkan dampaknya terhadap masyarakat kemarahan akan melahirkan rasa iri dan dendam, permusuhan antara karib kerabat, putusnya tali silaturahmi, kebencian yang menjalar, kerusuhan,tawuran, sehingga kehidupan masyarakat menjadi rusak dan hancur.
Sahabat, begitu hebat dan merusaknya dampak dari kemarahan yang tidak terkontrol,apa jadinya keluarga jika setiap anggota keluarganya selalu diliputi rasa marah, apa jadinya masyarakat jika setiap warganya diliputi ras dendam, rasa marah, apa jadinya sebuah negara jika seorang pemimpin, pejabat-pejabatnya selalu diliputi rasa benci dan dendam? Tentu akan timbul keruskan yang ada di bumi ini.

Tips Mencegah Marah
DR. Musthafa Dieb Al-Bugha dalam bukunya Al Wafie Fi  syarhil Arba’in An –Nawawiyah menyebutkan beberapa tips mencegah atau meredam kemarahan, diantaranya adalah :
1.               Melatih jiwa dengan akhlak terpuji, seperti sabar, lemah lembut, tidak tergesa-gesa dalam segala hal dan lain sebagainya.
2.               Mengingat-ingat dampak dari marah, keutamaan meredam amarah dan keutamaan memaafkan orang yang berbuat salah. Allah swt. Berfirman : “ Dan orang yang bisa meredam amarah dan memaafkan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berlaku ihsan.” (QS. Ali ‘Imron : 134).
3.               Ta’awudz, (mengucapkan Audzu billahi minasyaithonirrojiim).Allah swt. berfirman “ Dan jika engkau ditimpa godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( QS. Al-A’raf: 200)
4.               Mengubah Posisi
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)
5.               Menghentikan Bicara
Rasulullah saw . bersabda. “ Jika salah seorang diantara kamu marah maka diamlah.”Nabi saw. Mengucapkannya tiga kali” (HR.Imam Ahmad,Tirmidzi, dan Abu Dawud)
6.               Berwudhu.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya amarah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api. Jika seorang di antara kalian marah maka berwudhulah.” ( HR.Ahmad dan Abu Dawud).
Marah karena mencari keridhaan Allah swt
Marah yang harus dijauhi oleh setiap muslim adalah marah yang didasari dendam dan bukan untuk membela ajaran Allah swt. Adapun marah untuk membela agama Allah swt, atau membela kehormatan seorang muslim yang diinjak-injak, maka marah seperti ini diperbolehkan.Dalam riwayat Bukhori disebutkan bahwa Rasulullah saw lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pinangan. Jika beliau melihat sesuatu yang tidak disukai, makakami bisa mengetahui dari wajahnya.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah saw, tidak pernah marah. Namun jika larangan Allah dilanggar, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat meredam kemarahannya’ (HR.Bukhari, Muslim,dan yang lain).
Sahabat,sejenak marilah kita evaluasi diri kita, kita latih terus diri kita agar mampu menempatkan marah sesuai tempatnya, mampu mengontrol emosi sebagai ciri kematangan jiwa kita, Berfikir kembali, merenung, kenapa kita harus marah, dan apa dampak nya ketika kita marah. Cepat marah adalah tanda lemahnya seseorang, meskipun ia memiliki lengan yang kuat dan badan yang sehat sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda” Orang yang kuat, bukanlah karena jago dalam gulat. Orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah” (HR.Bukhari dan Muslim).Oleh karena itu sahabat, jadilah hamba-hamba Allah yang kuat, hamba Allah yang tidak mudah marah.Jangan Marah!
Wallahua’lam bi showab.

Read more »

Minggu, 15 Juli 2012

BORN TO FIGHT


Sahabat semua, sesungguhnya kita semua dilahirkan untuk menjadi fighter, menjadi seorang pejuang menjadi seorang mujahid. Kita dilahirkan untuk menjadi pejuang, berjuang untuk kehidupan kita mengukir prestasi dan meretas sebuah karya, berjuang untuk menciptakan sejarah kehidupan kita.
Sahabat, hidup ini adalah perjuangan, tidak ada hidup tanpa perjuangan, ingatkah kita ketika dulu sel sperma berjuang mengalahkan lawan-lawannya, bukankah di antara 250an juta sperma yang terpancar hanya ada satu yang berhasil bertemu dengan sel telur? Itu adalah kita. Sadarkah kita peristiwa ini adalah peristiwa yang membawa pesan tentang perjuangan.
Ketika lahir ke dunia dan tumbuh menjadi balita, kita juga mengalami sebuah episode perjuangan di dalamnya, mengingat kembali ketika kita belajar mulai dari tengkurap, belajar merangkak belajar berdiri, perjuangan yang luar biasa, jatuh bangun, lecet, terluka tapi semangat kita waktu itu sungguh luar biasa, kita terus belajar dan belajar.
Begitulah, ternyata ini juga menggambarkan tentang kehidupan kita bahwa kadangkala di dalam hidup kita tidak selamanya berlari, tapi kadangkala kita harus berjalan atau bahkan merangkak.
Sahabat semua, kualitas manusia dapat diukur salah satunya dengan seberapa besar perjuangan yang telah dilakukannya, seberapa besar pengorbanan bagi apa yang dia yakini dan perjuangkan. Perjuangan memunculkan sebuah kepahlawanan, kepahlawanan senantiasa berbanding lurus dengan perjuangan, biasanya orang yang mendapat gelar pahlawan juga dilihat dari perjuangan yang telah dilakukannya, akan tetapi sahabat, perjuangan kita tentunya bukan untuk mengharapkan akan sebuah gelar pahlawan, melainkan Ridha Allah-lah tujuan yang ingin kita capai dari perjuangan kita.
Kita semua dilahirkan sebagai fighter, kita semua terlahir dengan naluri kepahlawanan, kita semua terlahir dengan berbagai potensi yang terpendam yang siap digunakan untuk bekal sebuah perjuangan, kita semua diciptakan dalam sebaik baik bentuk oleh Allah “Sungguh, kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Qs At-Tin: 4).
Sahabat, seorang yang memutuskan bahwa dirinya adalah seorang pejuang, merekalah orang-orang yang akan mampu menghancurkan batasan-batasan, merekalah orang–orang luar biasa, merekalah orang-orang yang mampu membuat sebuah perubahan menuju sebuah keadaan yang lebih baik, menuju sebuah prestasi yang lebih baik, merekalah orang–orang yang mampu menciptakan peluang-peluang, melihat sebuah celah kemungkinan untuk berkarya dan berhasil.
Sekarang, akankah semangat perjuangan itu masih ada dalam diri kita? Kita ingat kembali perjuangan-perjuangan yang telah kita lewati dalam berbagai episode kehidupan kita, kita tatap medan perjuangan yang telah menantang di depan kita, sungguh hidup ini penuh perjuangan. Apakah Kita termasuk Pejuang? Ataukah Pecundang?
Wallahua’lam bi showab.




Read more »

NIKMATI UJIANMU


Sahabat, tentunya kita semua pernah merasakan sebuah ujian kehidupan, tentunya kita semua pernah merasakan terpaan musibah, kita semua mungkin pernah merasakan pahitnya kegagalan, dan beratnya tantangan. Itulah dinamika kehidupan, karena hidup ini pastilah dihiasi dengan berbagai problematika dan dilematika.
Wahai sahabat, ujian, tantangan, musibah semuanya adalah sunnatullah. Allah akan menguji setiap hamba-Nya dengan berbagai ujian untuk memilah-milah siapakah yang keluar sebagai pemenang atau sebagai pecundang, siapakah yang bersabar dan siapakah yang tidak, siapakah yang bersyukur siapakah yang ingkar.
Sahabat, Allah tidak akan membiarkan begitu saja kita mengatakan beriman tapi pastilah ada konsekuensi yang harus kita tempuh, ya… sebuah ujian untuk membuktikan keimanan kita. ” Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (Q.S Al-Ankabut ayat 2-3).” Lihatlah wahai sahabat, bahwa bukan hanya kita saja yang diuji oleh Allah, orang-orang sebelum kita pun pernah diuji.
Sahabat, seperti sebuah sunnatullah semakin tinggi pohon akan semakin besar pula angin dan badai yang akan menerpanya, ujian akan menaikkan derajat dan mutu kita. Bukankah kemurnian emas itu berasal dari kobaran api yang menyala? Kuatnya baja juga karena dilebur dengan api yang membara? Kuatnya batu bata juga berasal dari proses pembakarannya? tahukah kita bahwa indahnya guci yang di pajang di etalase juga berasal dari berbagi proses yang telah dilaluinya, berawal dari tanah yang disaring diinjak-injak di banting dibakar, dengan itulah tanah itu menjadi bernilai, akan sangat berbeda dengan seonggok tanah yang tidak diproses seperti itu dia akan menjadi tanah yang biasa.
Sahabat jika ujian adalah sebuah konsekuensi atas keimanan kita, apakah kita akan lari? Bukankah ujian itu harus kita hadapi? seberapa pun beratnya, seberapa pun pahitnya, sungguh kadang kita merasa bahwa diri kita adalah orang yang paling berat diuji oleh Allah tapi lihatlah wahai sahabat, orang –orang beriman sebelum kita lebih berat ujian yang mereka terima, lihatlah di luar sana , mungkin banyak orang yang lebih berat ujiannya daripada kita.
Sahabat, yakinlah bahwa ujian Allah setara dengan kemampuan kita, ujian Allah selaras dengan kondisi kita “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah: 286). Sahabat jalani saja ujian yang menerpa kita, jalani saja hidup ini dengan kewaspadaan, nikmati saja prosesnya, persiapkan diri kita untuk melanjutkan langkah-langkah kita selanjutnya, teruslah melangkah, mohonlah kepada Allah untuk diberikan punggung yang kokoh untuk memanggul segala ujian yang menerpa, ingatlah Allah lebih tahu yang terbaik buat kita.
Sahabat, nikmati saja ujianmu, enjoy sajalah, teruslah melangkah menatap medan perjuangan yang semakin menantang di depan sana.
Wallahu’alam bi showab.



Read more »

BERISTIRAHATLAH SEJENAK


Sahabat, ketika aktivitas kita begitu padat, agenda-agenda menumpuk, pekerjaan dan tugas- tugas belum tertunaikan, pernahkah Anda merasakan kelelahan? Ya, tentu Anda pernah mengalaminya, rasa lelah yang amat sangat dikarenakan terkurasnya energi kita dalam melaksanakan rutinitas harian kita, terkurasnya energi kita dalam menjalankan amanah yang dibebankan, letih, lelah dan kadang kita merasakan kebosanan yang luar biasa. Apakah ini salah? Bagi saya ini tidak salah, itulah fitrah manusia yang kadangkala merasa jenuh, merasa lelah dan bosan. Kita adalah manusia, kita bukan robot, tubuh kita juga mempunyai hak-hak yang harus kita tunaikan.
Sahabat, kelelahan seringkali bukan hanya menimpa fisik kita saja, tapi kelelahan juga dapat menjangkiti jiwa- jiwa kita. Rasa bosan, kemalasan, kekeringan spiritual dapat pula menjangkiti ruh dan jiwa kita. Ternyata bukan hanya fisik kita saja yang dapat lelah, tapi jiwa dan ruh kita juga dapat merasakan lelah.
Kelelahan fisik dapat kita atasi dengan cukup istirahat, menambah asupan gizi, serta mengkonsumsi vitamin dan makanan lain yang mengandung nutrisi–nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Memperhatikan hak-hak tubuh kita dengan proporsional.
Bagaimana dengan keletihan ruh dan jiwa kita? Kadangkala keletihan jiwa ini malah menimbulkan efek yang luar biasa bagi diri kita, ketika jiwa lelah, rasa bosan dan malas menyerang, nilai spiritual yang kering, mengakibatkan diri kita malas untuk melakukan sesuatu, bahkan fisik yang sebenarnya sehat pun kadangkala menjadi sulit untuk digerakkan. Apakah memang benar ungkapan di dalam tubuh yang kuat pasti terdapat jiwa yang sehat? Kadangkala kita secara lahiriah tubuh kita tampak sehat, akan tetapi jiwa kita sakit.

Sahabat, beristirahatlah sejenak ketika rasa lelah itu menghampiri kita, menghampiri jiwa-jiwa kita. Ketika ruh ini mulai mengalami kekeringan spiritual, ketika kita merasakan ketidaknyamanan dalam hati kita, ketika kita mulai merasa galau, gundah gulana, gelisah, marah, kacau, maka beristirahatlah sejenak. Renungilah kembali apa yang telah kita lakukan, sediakan waktu khusus untuk bermunajat kepada –Nya. Kembali merenungi dan bermuhasabah diri. Asahlah kembali gergaji spiritualitas kita agar kembali tajam.
Hiburlah jiwa kita, berilah dia asupan nutrisi yang baik, sehingga kekeringan jiwa kita kembali tertetesi oleh embun-embun keimanan. Hiburlah jiwa kita dengan memperbanyak intensitas munajat kita kepada-Nya. Hiburlah jiwa kita dengan mentadaburi ayat-ayat-Nya. Hiburlah jiwa- jiwa kita dengan mendatangi taman-taman surga yang ada di dunia, majelis-majelis penumbuh keimanan, majelis-majelis dzikir. Hiburlah jiwa- jiwa kita dengan memperbanyak silaturahim, mengunjungi orang-orang shalih, mengunjungi karib kerabat. Hiburlah jiwa- jiwa kita dengan membaca kembali sejarah perjuangan para pendahulu kita, membaca kembali sejarah dan biografi Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Sahabat, marilah kita kembali berupaya mengkhusyukan jiwa dan hati kita, yang mungkin merasa lelah dan jenuh atas segala aktivitas dan rutinitas kita. Beristirahatlah sejenak dan bangkitlah kembali. Kembali merenungi perjalanan yang telah kita lakukan, melihat kembali karya yang telah kita torehkan. Beristirahatlah sejenak sahabat, lepaskanlah kepenatan itu, tataplah hari esok dengan kekhusyukan hati dan kedamaian jiwa.
“Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Alkitab sebelumnya (dimana) ketika jarak antar mereka (dengan sang Rasul) telah jauh, maka hati-hati mereka menjadi keras, dan banyak dari mereka menjadi fasik” (QS. Alhadid: 16)
Wallahua’lam bi showab.



Read more »

 

Asyiknya Menjadi Ayah

SPIRIT OF LIFE

SETETES EMBUN KEHIDUPAN

Catatanku

SEKILAS INFO