Hanya Allah lah tempat kita untuk berlindung, hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan agar Allah semakin menguatkan tembok keimanan kita.
Kehidupan di Dunia hanyalah salah satu fase dari Perjalanan Kehidupan.Perubahan di dalamnya adalah sebuah keniscayaan.Keberuntungan sejati adalah ketika dalam fase ini kita dapat bertumbuh, berkembang dan menata diri menjadi pribadi yang terbaik untuk menghadap Allah SWT.
Kebersamaan itu berfungsi saling menguatkan,saling menopang.Betapapun kita menganggap diri kita kuat,pasti kita memiliki celah kekurangan yang tidak bisa kita tutupi sendiri,kecuali dengan hadirnya orang lain yang menyertai,yang dengannya kita bisa saling menguatkan.Maka, teman yang sholih dibutuhkan dalam mengarungi perjalanan hidup ini,untuk saling memberi dan menumbuhkan.
Karena setiap orang berbeda dan mempunyai keunikan, karena setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Maka, bertemunya kita dalam kebersamaan ini akan mewujudkan sebuah keistimewaan, berbeda warna akan tetapi satu.Saling mengambil segi positif dari kebersamaan dan keanekaragaman kita agar mampu saling berbagi,saling menginspirasi dan saling menumbuhkan.
Kebersamaan kadang menimbulkan luka, menimbulkan kebencian yang menyesakkan dada.Karena manusia penuh dengan kekhilafan dan kealpaan.Begitu juga dengan kebersamaan kita. Minta maaf dan memaafkan adalah salah satu ekspresi kita agar mampu saling menumbuhkan dan menyatukan jiwa
Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Adakah di antara kita yang tersayat atau terluka ? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.
Senin, Maret 18, 2013
Unknown
Rabu, Maret 13, 2013
Unknown
Rabu, Maret 13, 2013
Unknown
![]() |
| Ilustrasi dari Internet |
Rabu, Maret 13, 2013
Unknown
Hari itu, langit Jakarta sudah mulai menguning, burung-burung telah kembali ke sangkarnya, matahari sedikit demi sedikit merangkak tenggelam di ufuk barat. Ku habiskan waktuku di depan netbook kecil sambil menunggu adzan maghrib berkumandang. Tiba-tiba hape ku bergetar, ada telpon masuk, ku lihat disitu tertulis nama “Bapak”. Segera ku angkat telpon dari beliau..”Halo,,piye kabare le?,akeh dongo yo, kemudian Bapak membacakan sebuah doa, yang sebenarnya aku sendiri sudah tidak asing dengan doa itu, hanya saja, mulut ini ternyata telah jarang melafadzkan doa ini.. “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin”, kata beliau, saya di suruh untuk membaca doa ini, dan semoga mendapatkan daerah penempatan terbaik, setelah itu telpon pun di tutup. Dialog singkat dengan Bapak sore itu seakan memberikan sebuah pengingatan besar padaku, seolah olah aku kembali di ingatkan, kembali di tepuk, untuk kembali mengingat Sang Maha Pencipta. Berbagai rutinitas yang melelahkan, rutinitas yang membosankan ternyata membuat diri ini lalai, seolah–olah bapak ku ingin berpesan:”le elingo…Nak Ingatlah, bahwa kita terlalu berkubang dalam kemaksiatan, terlalu dzholim, dan menjadi hamba-hamba Allah Yang Lalai, kita seakan hanya butuh Allah ketika kita sedang membutuhkan. Degg,,…aku pun hanya bisa tertunduk..seolah-olah inilah teguran Allah buat saya, lewat nasehat Bapak saya. Memang, hari-hari itu adalah masa-masa mendebarkan, menunggu pengumuman penempatan tugas dari instansi tempat saya bekerja, di mana kami dituntut harus siap di tempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Bukan hanya saya yang berdebar-debar, keluarga di rumah pun selalu menanyakan tentang kabar penempatan.
Rabu, Maret 13, 2013
Unknown
Malam semakin larut, udara dingin pun mulai menusuk tulang. Kesejukan bumi cisarua bener-bener terasa, lebih sejuk dari Jakarta. Setelah beberapa saat tiba di salah satu hotel tempat kami dan pimpinan menginap, saya mengobrol dengan dua bapak-bapak supir dari atasan kami. Bercerita kesana kemari, sampai berbagai nasehat pun saya terima dari beliau-beliau ini.