Senin, 18 Maret 2013

TEMBOK SEKOLAHKU JEBOL


Pagi itu, pagi yang cerah, seperti biasa ku lalui aktivitasku seperti biasa. Harus bangun pagi, mampir di warung dulu..beli nasi pecel…lalu berangkat ke sekolah. Ya..dengan ceria berjalan kaki dari kost, memang sekolah ku tak terlalu jauh jaraknya dari kost.
Wow..sudah banyak yang datang ternyata, aku kira masih kepagian. Gerbang khas sekolah, pohon beringin tua dan bangunan sekolah yang “jadul” dan kuno, pemandangan yang setiap pagi kulihat waktu aku sekolah di SMU itu. Tapi jangan salah walaupun tampilan luarnya yang antik dan kuno, tapi SMA ku termasuk salah satu sekolah favorit di kota bengawan.
Langkahku pun ku lanjutkan, melewati lorong kelas, menuju kelas di lantai paling bawah. Ya di bawah, karena waktu itu aku masih duduk di kelas satu SMA. Aku masuk ke salah satu ruangan kelas, tepatnya kelas 1.6. Wah teman-temanku sudah banyak yang datang, mereka sudah memenuhi bangku-bangku dikelas itu. Tapi seperti biasa, empat meja terakhir bagian pojok, itu bagianku dengan teman-temanku. Pojok belakang, yah memang nyaman..duduk di pojok, kalau ngantuk tingal tundukkan kepala sedikit. Pojok kelas 1.6…yang memang sangat nyaman.
Seperti biasa, namanya juga anak SMU, sering usil, iseng, kadang kami dulu ketika waktu senggang ada yang bermain catur, asah otak katanya, atau adu panco..wow..biar kelihatan “ macho” gitu. Tapi ada satu aktifitas lucu dan sepele yang sampai sekarang aku kadang tertawa mengingatnya. Ya..entah yang memulai siapa, setiap orang yang duduk dipojok itu tangannya usil membuat lubang kecil. Cuma iseng sih..pertama memang cuma sebesar lubang paku. Sambil mendengarkan pelajaran dari guru, tangan kami tidak berhenti beraktifitas. Tangan kami masih terus mengebor tembok itu, walau hanya dengan bolpoint. Entah kenapa, teman –teman yang kebetulan duduk di situ juga turut berpartisipasi. Lubang yang semula hanya sebesar lubang paku pun, hari demi hari semakin dalam. Hingga suatu saat kami menemukan alat baru, kayaknya lebih efektif buat ngebor tembok. Memang kreatif juga anak-anak, jangka disamping papan tulis, dan biasanya digunakan untuk menggambar di waktu pelajaran matematika pun kami ambil. Di salah satu bagiannya ada bagian yang lancip, dan satu bagiannya untuk tempat kapur. Ngebor  terus…..pokoknya, entah waktu itu aku juga tidak tahu tujuannya untuk apa. Akhirnya suatu hari..tibalah giliranku duduk di pojok kelas. Aku pun juga ambil bagian dalam aktifitas “ ngebor”. Jangka pun kuputar sedikit demi sedikit, melanjutkan lubang yang dibuat temanku, dan akhirnya..krek..woi..tembus. Aku juga tidak habis piker, tembok kelas yang lumayan tebal itu akhirnya tembus juga, perjuangan yang luar biasa kawan. Sedikit demi sedikit akhirnya jebol juga ni tembok. Ah dasar  temanku semakin iseng saja, lubang yang tembus tadi semakin dibesarkan, hingga akhirnya tanganku pun sampai bisa muat. Tembus sampai parkiran luar, wow hembusan angin sampai terasa. Agar tidak ketahuan guru, kami pun menyumpal lubang tadi dengan kertas-kertas. Ya kalau ingin tahu suasana luar, dan biar lubang angin kembali terbuka, kertas itu kami ambil. Akan tetapi bagaimanapun kami sembunyikan akhirnya ketahuan juga. Wah waktu aku duduk dibelakang ada seorang guru yang pengin tahu lubang karya kami.  Ehm..besar juga ya,.. takut juga ni, ntar kalau dihukum bagaimana?. Keringat dingin keluar..apalagi waktu itu..kepala sekolah kami terkenal seram. Tapi akhirnya kami hanya disuruh untuk menambal tembok itu, dan mengecatnya seperti semula. Pada akhirnya kawan-kawanku bersama-sama menambal lubang angin itu. Untung waktu itu sekolah kami sedang membangun beberapa bangunan tambahan.
……………..
Kawan..itu salah satu kejadian yang pernah aku alami sewaktu SMU dulu. Dan sekarang aku pun sejenak merenung, ternyata tembok sekolahan yang tebal itu pun akhirnya jebol dari usaha pengeboran yang dilakukan terus menerus. Bagaimana dengan iman kita? Setiap hari kita selalu berhadapan dengan musuh bebuyutan kita, syetan laknatullah ‘alaihi. Setiap hari syetan tak henti-hentinya mengebor keimanan kita, mulai dosa yang kecil, yang kita remehkan dan ternyata jika dilakukan terus menerus bukan tidak mungkin akan menyeret kita untuk melakukan dosa besar dan menjebolkan tembok keimanan kita. Kita berlindung kepada Allah semoga kita dilindungi dari godaan syetan yang terkutuk. Syetan pun sangat lihai memainkan strateginya, dengan cara ini tidak berhasil, mereka mencari cara yang lain. Dan hal ini telah mereka lakukan sejak berjuta-juta tahun yang lalu, sejak jaman nenek moyang kita, nabi Adam As.
Hanya Allah lah tempat kita untuk berlindung, hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan agar Allah semakin menguatkan tembok keimanan kita.
Kawan, ternyata..lubang angin yang dulu kami sembunyikan dengan menutupnya dengan kertas putih akhirnya ketahuan juga. Begitu juga mungkin dengan dosa dan kebusukan tingkah laku kita, mungkin lama kelamaan akan tercium dan ketahuan juga.
Ya semoga diri ini masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk senantiasa bertaubat, memohon ampun akan kesalahan kita, diberikan kesempatan untuk menambal lubang kejahatan, lubang dosa kita dengan perbuatan baik. Ya Allah..berilah kami semua kesempatan itu. Aamiin.


Read more »

Rabu, 13 Maret 2013

WISUDA SARJANA


Hari itu tanggal 3 September 2009, hari yang ditunggu –tunggu beberapa mahasiswa di kampus kami. Ya karena hari itu memang hari wisuda program Pascasarjana, PPDS dan sarjana. 
Hari itu juga merupakan salah satu hari yang membahagiakan buat saya. Setelah beberapa tahun akhirnya wisuda juga. Persiapan dari rumahpun dilakukan. Pagi-pagi kami sudah berangkat menuju solo untuk menghadiri acara wisuda dikampus. Ditemani ibu dan bapak serta mbak Rati , mbak yang mengasuhku waktu kecil ketika ditinggal ibu mengajar, yang juga tetanggaku.
Sesampainya di kampus, seperti dugaan, kampus ramai sekali, banyak calon-calon wisudawan yang telah datang bersama keluarganya. Kebetulan kami mendapat shift gelombang kedua dalam acara wisuda periode ini, maklum auditoriumnya tidak muat untuk menampung wisudawan.
Suasana pagi itu gerah sekali, panas, apalagi harus memakai pakaian TOGA. Tetapi suasana panas tak menghalangi kebahagiaan para wisudawan. Senyum-senyum bahagia masih tersungging dari bibir mereka. Ya walaupun panas dan kebetulan juga pas bulan Ramadhan, tetap semangat pokoknya. Banyak godaan memang, puasa-puasa, haus, snacknya pun cukup dibungkus dibawa pulang.
Akhirnya giliranku tiba, namaku dipanggil, eh..dibelakangnya dikasih embel-embel SE…padahal orang tuaku dulu tidak memberi itu dinamaku..ya gak apa-apalah. Aku pun dipanggil maju kedepan oleh Bapak Dekan dan kemudian diberi ijazah. Tali kuncir di topi toga dipindah tempat dan yah…selesai. Setelah itu keluar sholat dan foto-foto bareng bersama teman-teman.
Ijazah sudah ditangan, transkrip dengan nilai pas-pasan, he..he ya cuma dengan IPK 3 lebih sedikit, walaupun tidak dengan pujian tapi alhamdulillah juga tidak dengan cacian. Ketika ku pandangi transkrip nilaiku, ha..ha parah ternyata..ada yang 2,2,2 alias C di beberapa mata kuliah, yang dapat B juga ada A juga ada tapi sedikit. Jadi teringat masa-masa kuliah dulu, untuk mencapai nilai itu ya butuh usaha dikit, minimal ngopi catatan teman katika mau ujian buat belajar, datang ujian dengan jadwal yang tepat serta membawa KRS, inilah yang penting, soalnya dulu sempat kejadian sudah belajar eh..lupa jadwalnya seharusnya ujian jam 07.00 aku berangkat jam 12.00..akhirnya tidak lulus mata kuliah itu.
Saya yakin usaha yang luar biasa juga dilakukan oleh mahasiswa yang lain, usahanya dalam belajar, usahanya dalam membayar uang SPP, uang kontrakan, uang kost, uang buku. Usahanya dalam mengerjakan skripsi yang kadangkala bikin males…walaupun ada juga mahasiswa yang dengan usahanya agar bisa lulus ujian, nitip absen dll..hayo siapa ? pada ngaku..ha..ha.. dan akhirnya..walaupun agak terseok-seok, agak telat lulusnya, hari ini kita wisuda bro! sebuah prosesi pelepasan gelar Mahasiswa dan pengangkatan menjadi PNS alias Pengangguran Ning Sarjana ( walaupun tidak semuanya) . Itulah kisah kita kawan, semoga fase kita di kuliah bisa jadi cerita klasik untuk masa depan.
############
Sahabat, wisuda di kampus kita sudah kita lalui, ada yang dapat IPK pas-pasan, IPK dengan pujian . Ya tergantung usahnya dulu ketika waktu kuliah, tapi kita senang kan bisa lulus?. Yang menjadi pikiran adalah bagaimana wisuda kita nanti dari kampus kehidupan ini? kalau di kampus kita dulu nitip absen mungkin nggak ketahuan dosen, ngopi paste tugas juga nggak ketahuan..tetapi bagaimana dengan di akherat nanti? apa bisa kita nitip absen waktu sholat? apa bisa kita menipu Allah Yang Maha Tahu?. Rekaman-rekaman tingkah polah kita sudah terekam dengan lengkap, lebih canggih dari hanya sekedar sadapannya KPK atau Polisi, lengkap selengkap-lengkapnya. Bahkan tangan, kaki kita akan bersaksi, bisakah kita untuk mengelak?
Kalau dulu kita di kampus dapat nilai D bisa kita remidi, apa ada di hari penghitungan nanti?. Padahal kita sadar nilai-nilai kita dikampus kehidupan dunia ini masih banyak yang merah…masih banyak kekurangan sana-sini, kalau kita tak remidi sekarang mau kapan lagi?.
Kalau dulu kita maju kedepan dipanggil kemudian dikasih ijazah dengan kedua tangan oleh Dekan, bagaimana di hari penghitungan nanti?. Apakah kita termasuk ashabul yaamiin..golongan orang-orang yang menerima catatan amal dari tangan kanan, atau orang –orang yang menerima catatan amal dengan dilemparkan?.
Saatnya kita terus berusaha memperbaiki diri, terus berusaha untuk beramal sholih agar Allah ridho dan memberikan nilai yang baik untuk kita. Kampus kehidupan ini juga sangatlah pendek tetapi kehidupan setelah kampus ini kekal. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang menyesal di hari penghitungan. Ya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati ini dalam dien dan ketaqwaan kepada-Mu. Golongkanlah kami dalam orang-orang yang mendapatkan pertolongan di hari perhitungan, dan hanya kepada-Mu kami berserah diri
Read more »

RAPORT DIK LINTANG

Ilustrasi dari Internet
Beberapa hari yang lalu, Lintang, keponakanku yang masih duduk di bangku kelas 1 di sebuah SDIT di daerah kami menerima raport. Hari itu dia memang tidak masuk sekolah, raportnya diambilkan oleh neneknya. Sesampainya di rumah, sang nenek pun mengabarkan hasil prestasi dari cucunya ini. “Alhamdulillah dapat rangking satu”, senyum kebahagiaan tersungging di bibir gadis kecil itu. Dia terlihat sangat bahagia, dilihat nilainya memang luar biasa, rata-rata nilainya 90 lebih. Lintang pun sangat senang dengan prestasi itu, terbayang- bayang di benaknya akan hadiah yang akan diberikan bapak, ibu, dan tantenya karena telah berhasil meraih juara satu dikelas.
Lintang memang seorang gadis cilik yang terbilang cukup cerdas, ketika masih TK saja dia pernah berhasil menjadi juara dua dalam lomba ceramah tingkat kabupaten. Akan tetapi prestasi yang diraihnya kali ini bukan tanpa usaha dan kerja keras. Masih teringat ketika musim ujian, Lintang sakit, tapi dia tetap masuk sekolah, dan dia tetap belajar. Bahkan ketika dia kelelahan dan tertidur pun dia mengigau tentang apa yang dibacanya tadi ketika belajar. Lintang, gadis cilik itu juga harus bangun pagi-pagi, sholat, mandi, dan sarapan dikarenakan mobil jemputan dari sekolahnya jam 6.30 sudah menunggu di dapan rumah. Memang jarak sekolah lintang dengan rumahnya sekitar 8 km. Hal itu dilakukannya setiap pagi. Tanpa jajan dan bekal, karena memang sudah peraturan dari sekolahan. Snack, makan siang, dan minuman telah di sediakan oleh sekolahan. Ketika dia diberi uang saku oleh tante-tantenya, bapak, ibu atau neneknya, dia tabung semua. Katanya, “mau ku tabung untuk beli komputer mas, tabunganku sudah sampai Rp 200.000 an”. Di samping usaha kerasnya dalam belajar, Lintang termasuk gadis kecil yang menjaga sholatnya. Ketika dulu dia menginap dirumahku, suasana pagi itu masih sangat dingin, tapi ketika dia dibangunkan untuk sholat subuh, dia langsung bergegas menuju kamar mandi dan berwudhu. Setelah itu dia sholat subuh dua rakaat. Di saat anak-anak se usianya di daerah kami masih terlelap tidur, dia sudah bangun untuk sholat subuh. Di saat teman-teman seusianya di SD lain jam 10 pagi mungkin sudah pulang sekolah, dia jam setengah dua siang baru sampai di rumah. Di saat siswa-siswa di SD lain cuma belajar beberapa mata pelajaran saja, dia harus belajar ekstra dikarenakan disekolahnya banyak pelajaran yang tidak diajarkan seperti di SD lain. Di saat teman-teman seusianya menikmati jajan dari uang sakunya, dia memilih untuk menabung guna membeli komputer. Dan akhirnya kerja kerasnya membuahkan hasil yang manis di rapotan semester ini, dia mendapat rangking satu.
**************
Sahabat, saya begitu banyak belajar dari Lintang, gadis kecil yang baru duduk di kelas 1 SD. Segala sesuatu itu memang harus diperjuangkan, butuh usaha, kerja keras, dan doa. Kadangkala kita hanya melihat kesuksesan seseorang tanpa melihat pahit getir perjuangannya. “Dia kan beruntung, dia kan anak orang kaya, dia kan… “, berbagai penilaian negatif kadangkala kita lontarkan kepada seseorang yang berhasil memperoleh prestasinya. Padahal boleh jadi penilaian negatif kita tidak benar, bisa saja seseorang mendapatkan sebuah kesuksesan memang itu hasil dari kristalisasi keringat dan usahanya. Terlalu banyak kisah sukses perjuangan seorang anak manusia yang telah kita baca dan dengar. Kisah seorang penjual sayur keliling, kisah seorang pelawak yang sukses, kisah seorang remaja yang dikatakan idiot, begitu banyak kisah yang telah kita ketahui, tapi akankah kita mengambil pelajaran dari itu semua?.

Untuk menjadi orang yang extraordinary kita juga harus melakukan sesuatu yang tidak dilakukan orang lain. Saya banyak belajar dari lintang, disaat teman-temannya menikmati jajanan dari uang sakunya, dia memilih untuk menabung, disaat gadis kecil seusianya jam setengah lima masih tertidur, dia bangun untuk sholat subuh, disaat teman-temannya di SD lain jam 10 sudah pulang, dia pulang sampai rumah jam setengah dua. Memang semua itu butuh pengorbanan. Barang siapa bersantai saat bekerja, ia akan menyesal saat pembagian upah. 
             Sahabat, memang penyesalan itu muncul di akhir. Kita selalu merasa telah berusaha keras tapi hasil belum nampak, dan kadangkala kita merasa iri dengan kesuksesan yang diperoleh orang lain, padahal dalam penilaian kita orang itu biasa saja, atau usahanya tak sekeras kita. Sahabat…marilah kita menghilangkan prasangka-prasangka negatif itu. Tugas kita adalah ikhtiar, terus berusaha, lebih keras lagi, lebih cerdas lagi, berpikir positif, penuh optimisme, semangat dan keyakinan, dan terus berdoa kepada Allah. Saya yakin bahwa suatu saat Allah akan mengabulkan doa-doa kita. Jangan pernah lelah berdoa dan jangan pernah berprasangka buruk kepada-NYA.
           Semoga kita bisa belajar mengambil hikmah dari perjuangan seorang gadis kecil untuk meraih prestasi dikelasnya. Terimakasih Dik Lintang….saya banyak belajar darimu. 
Read more »

TELPON CINTA DARI BAPAK

Hari itu, langit Jakarta sudah mulai menguning, burung-burung telah kembali ke sangkarnya, matahari sedikit demi sedikit merangkak tenggelam di ufuk barat. Ku habiskan waktuku di depan netbook kecil sambil menunggu adzan maghrib berkumandang. Tiba-tiba hape ku bergetar, ada telpon masuk, ku lihat disitu tertulis nama “Bapak”. Segera ku angkat telpon dari beliau..”Halo,,piye kabare le?,akeh dongo yo, kemudian Bapak membacakan sebuah doa, yang sebenarnya aku sendiri sudah tidak asing dengan doa itu, hanya saja, mulut ini ternyata telah jarang melafadzkan doa ini.. “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin”, kata beliau, saya di suruh untuk membaca doa ini, dan semoga mendapatkan daerah penempatan terbaik, setelah itu telpon pun di tutup. Dialog singkat dengan Bapak sore itu seakan memberikan sebuah pengingatan besar padaku, seolah olah aku kembali di ingatkan, kembali di tepuk, untuk kembali mengingat Sang Maha Pencipta. Berbagai rutinitas yang melelahkan, rutinitas yang membosankan ternyata membuat diri ini lalai, seolah–olah bapak ku ingin berpesan:”le elingo…Nak Ingatlah, bahwa kita terlalu berkubang dalam kemaksiatan, terlalu dzholim, dan menjadi hamba-hamba Allah Yang Lalai, kita seakan hanya butuh Allah ketika kita sedang membutuhkan. Degg,,…aku pun hanya bisa tertunduk..seolah-olah inilah teguran Allah buat saya, lewat nasehat Bapak saya. Memang, hari-hari itu adalah masa-masa mendebarkan, menunggu pengumuman penempatan tugas dari instansi tempat saya bekerja, di mana kami dituntut harus siap di tempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Bukan hanya saya yang berdebar-debar, keluarga di rumah pun selalu menanyakan tentang kabar penempatan.
Sore itu Bapak ku kembali mengajarkan dan mengingatkan akan sebuah doa yang mulai jarang ku baca,,ya doa Dzun Nun yang ternyata adalah doa yang luar biasa. Bapak saya memang bukanlah seorang Kyai, ataupun seorang ustadz, akan tetapi saya yakin, atas petunjuk dari Allah lah, Bapak tergerak hatinya untuk menelpon saya dalam rangka mengingatkan kembali doa itu. Ternyata doa itu sangatlah istimewa, saya bukan lah mufasir atau ahli tafsir, saya sedikit mengambil pelajaran bahwa doa ini paling tidak mengadung tiga komponen : yaitu pengakuan Tauhid, pengakuan kekurangan diri, dan berisi permohonan ampun (istighfar), subhanallah doa singkat tapi luar biasa. Saya pun penasaran, dan kemudian mencari di internet tentang doa ini, dan akhirnya menemukan sebuah hadist,” Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 3505. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).Aku pun kembali terhenyak…Subhanallah,,”tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah Kabulkan Baginya”.
Sore itu..Bapak telah memberikan pelajaran yang berharga bagiku. Aku yakin, itulah salah satu wujud cinta seorang bapak kepada anaknya. Saya bukanlah seorang anak yang dekat dengan sosok seorang Bapak, seorang anak yang lebih banyak berinteraksi dan komunikasi dengan sang Ibu. Mungkin itulah cara ayah mencintai anaknya, mereka mempunyai cara-cara sendiri untuk mecintai anaknya. Dialog-dialog yang singkat,padat, mungkin itulah cara Bapak, seorang Ayah tak selalu punya ungkapan untuk mengapresiasi kita, saya yakin, bahwa mempunyai Bapak adalah sebuah anugerah, mempunyai ayah adalah sebuah keberuntungan. Betapapun mungkin di luar sana banyak anak-anak yang tersakiti oleh ayahnya, ataupu banyak anak –anak yang merasa jauh dari ayahnya, ayah kita tetaplah ayah kita. Mengantarkan kita lahir kedunia ini adalah tetap salah satu kebaikan darinya. DI dalam diri kita, mengalir darah nya, kita adalah darah dagingnya. Dan sudah sepantasnyalah nama Bapak masuk dalam daftar deretan nama orang-orang yang kita doakan
Telpon dari Bapak sore itu, mungkin salah satu wujud cintanya pada anaknya. Seorang Bapak yang menginginkan yan terbaik bagi anaknya. Terimi kasih Bapak..Telponmu sore itu adalah telpon cintamu.
#Jakarta,menjelang tengah malam.060711#
Read more »

NASEHAT DUA BAPAK SUPIR

Malam semakin larut, udara dingin pun mulai menusuk tulang. Kesejukan bumi cisarua bener-bener terasa, lebih sejuk dari Jakarta. Setelah beberapa saat tiba di salah satu hotel tempat kami dan pimpinan menginap, saya mengobrol dengan dua bapak-bapak supir dari atasan kami. Bercerita kesana kemari, sampai berbagai nasehat pun saya terima dari beliau-beliau ini.
Dari segi umur ,mungkin saya sudah sekelas cucu mereka,Beliau berdua memang sudah sepuh. Mala mini, saya seakan mendapatkan wejangan-wejangan berharga dari keluarga saya sendiri. Salah satu dari bapak ini dulunya adalah seorang preman yang cukup di segani, atau mungkin dulunya tentara?ah ..saya nggak Tanya sampai mendalam. Beliau bercerita masa mudanya, yang seorang yang cukup disegani, selalu bawa bayonet ,masalah minum dan sejenisnya pernah beliau lakukan., hingga akhirnya sampai sekarang beliau berhenti melakukannya. Ketika saya Tanya, tepatnya kapan bapak berhenti dan mulai sadar? Beliau menjawab, ketika saya mulai berkeluarga, saya punya komitment dalam diri untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jelek saya. Dari sinilah mulai nasehat-nasehat dan wejangan diberikan ke saya. “Mas. Masih muda dan ibaratnya masih baru awal bekerja, g usah neko-neko dalam hidup, qonaah,tak perlu memandang keatas utk masalah dunia, bukan berarti kita tidak berusaha atau pasrah akan tetapi disyukuri apa yang ada. Nggak perlu gelisah,iri ataupun dengki ketika rumput tetangga lebih hijau. Hemat dan mulai menabung”..akupun mendengarkan dengan seksama nasehat-nasehat mereka berdua. Harta tidak akan kita bawa mati mas!.Pisahkan harta yang halal, jangan sampai uang haram dibawa ke rumah,yang penting cukup dan berkah. Banyak prihatin mas dan banyak berbagi walaupun seperak dua perak,tapi akan membuat hidup kita tenang dan bahagia.”
Trus beliau menceritakan, baru beberapa tahun beliau sering ke masjid, mulai sholat. Melihat beberpa orang yang meninggal, beliau jadi berfikir akan bekal apa yang harus disiapkan, beliau menjadi sadar bahwa kita semua akan mati, Dan beliau mendapat nasehat dari seorang ustadz agar menjaga dan memperbaiki sholatnya.”Kita makan 3x sehari karena kita butuh dan lapar, tetapi kenapa kita juga nggak begitu dalam masalah sholat, Jadi kelaki kalau biasa sholat tepat waktu dan berjamah di masjid. Insyaallah hidup kita akan berkah.Kalau untuk maksiat saja kita rela membayar dan mengeluarkan uang, kenapa untuk kebaikan,untuk sholat yang gratis kita tidak mau?ujar beliau..Beliau mengatakan Sholat membuat dirinya menjadi damai dan tenang.
Dalam hal masalah pekerjaan, beliau menasehatkan, awali dengan bismillah. Beliau mencertikan pekerjaan istrinya yang sebagai perawat, modalnya adalah Bismillah, berusaha memberikan yang terbaik, ikhlas, walaupun pekerjaannya berat. Posisikan orang yang kita layani adalah seperti keluarga sndiri, berikan pelayanan yang terbaik. Apakah kita mau, pasang infuse untuk saudara kita,atau anak kita sampai terluka , berdarah-darah?nggak mau kan?pasti kita ingin memasangnya dengan penuh kelembutan, tidak seenaknya. Itulah yang juga di maui oleh pasien. Ikhlas saja dalam bekerja..Deg..saya pun hanay bisa tertunduk?sudah bisakah aku berbuat demikian..diri ini masih diberikan kesempatan untuk bermuhasabah diri.
Dalam masalah keluarga beliau menceritakan bahwa orang tua pasti sayang sama anaknya. Walaupun gaya mendidik nya berbeda-beda. Beliau menginginkan yang terbaik buat anaknya. Lebih baik prihatin, ataupun berkorban demi kebahagiaan anaknya. Satu hal yang saya dapat, ya..sebuah rasa tanggung jawab sebagai seorang lelaki, tangung jawab seorang bapak. Beliau dulu pulang 2 pekan sekali ke Lampung, karena bekerjanya di Jakarta. Yang selalu dia bawa adalah barng-barang kebutuhan anaknya, sepatu,tas dan baju.
Kalaupun bapak satunya, sudah beberapa kali saya pergi dengan beliau. Beliau adalah orang yang sangat rajin sholat malamnya, sholat duhanya dan juga rajin puasa. Di usianya yang semakin senja, beliau masih berusaha untuk menjaga konsistensinya dalam hal beribadah. Hidup nggak hanya mengejar dunia, semua pasti akan mati.Maka bekal yang perlu disiapkan adalah bekal untuk kehidupan setelah mati.
Banyak hal yang sebenarnya bisa di gali dari obrolan kami, banyak wejangan-wejangan yang beliau sampaikan. Menjadikan diri ini berefleksi diri, atas segala kekurangan dan kesalahan-kesalahan.Kita lihat apa yang beliau sampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Jika yang disampaikan adalah sebuah kebenaran, kebajikan, maka dari siapapun nasehat itu disampaikan, kita harus menerimanya. Akan sangat rugi jika kita melewatkan nasehat orang lain yang akan mampu membuat diri kita jadi lebih baik.Terimakasih bapak-bapak supir atas seluruh nasehatnya.Jika setiap tempat adalah sekolahan, maka setiap orang adalah guru.
_Royal Safari Garden, 7 Oktober 2011_
_subuh yang indah ditengah sejuknya kota cisarua_
Read more »

 

Asyiknya Menjadi Ayah

SPIRIT OF LIFE

SETETES EMBUN KEHIDUPAN

Catatanku

SEKILAS INFO