Selasa, 29 Januari 2013

SELAMAT DATANG ANAKKU : MUHAMMAD RAFIF HIDAYAT



Malam itu, sekitar pukul dua dini hari aku mendapatkan sms dari umi mu, dia mengabarkan perutnya mulai mulas dan tidak bisa tidur. Paginya, abi telpon, agar umi segera periksa di bidan terdekat.  Abi sudah mulai khawatir, umi mu akan segera melahirkan,padahal abi masih di jakarta.
                Kurang lebih pukul  07.00 pagi, umi mu sms bahwa dia sudah periksa ke bidan, kata bidan masih bukaan satu, dan umimu di suruh pulang dulu, habis maghrib baru datang ke bidan lagi. Abi pun mulai bingung, Jakarta hari itu sedang dilanda banjir, beberapa alat transportasi tidak beroperasi, bus trans jakarta juga tidak beroperasi, jalan-jalan protokol masih tergenang air. Abi pun mulai mencari-cari informasi lewat berita di televisi, dan internet tentang keadaan jakarta pagi itu.
Niat abi sudah bulat, pagi ini abi harus pulang ke semarang dan mengantarkan serta mendampingi umi mu ke bidan. Beberapa pakaian sudah abi siapkan, keputusan  harus diambil mau pilih mode transportasi yang mana, bis di lebak bulus, tapi sudah kelewat jam paginya, pesawat di Soekarno Hatta,juga belum beli tiket dan takut macet di jalan menuju bandaranya, akhirnya pilihan abi jatuh ke stasiun Gambir,ya mencari kereta paling pagi.
Abi coba telphone taksi, tetapi pagi itu lagi full, susah nyari armada yang kosong dan mau mengantar, akhirnya abi naik bajai ke jalan untuk cari taksi di jalan.Beberapa menit abi tunggu, tidak muncul-muncul juga, padahal abi harus beli tiket kereta dulu. Kereta paling pagi jam 07.30 telah berangkat, kereta berikutnya jam 09.30. Lama dan lama,taksi tdak muncul-muncul, akhirnya abi cari ojek di sekitar jalan itu. Alhamdulillah ada bapak-bapak tua yang mau mengantar. Sempat bapak tukang ojek itu berdiskusi  dengan rekannya tentang jalur yang bisa dilewati. Akhirnya, bismillah kami memutuskan untuk lewat jalur bundaran HI yang saat itu sedang terkena banjir. Sempat rintik-rintik hujan gerimis  membasahi baju abi dan tukang ojek itu, tapi perjalanan kami tetap kami lanjutkan.
Alhamdulillah, bapak tukang ojeknya sangat sabar, dengan pelan namun pasti, kami melewati kubangan-kubangan air yang menggenangi jalanan protokol. Jalan –jalan yang berserakan, lumpur, genangan air, motor mogok, orang berjalan kaki, mobil-mobil yang berjajar, lalu lintas yang semrawut, menjadi poret ibu kota pagi itu. Akhirnya sektitar jam 09.15 abi sampai stasiun, dengan celana sedikit basah, abi berlari menuju toilet untuk cuci kaki lalu bergegas ke penjualan tiket.  Antrian ternyata masih agak panjang, padahal jika sesuai jadwal , 10 menit lagi kereta akan berangkat.
Alhamdulillah, abi akhirnya bisa mendapatkan tiket, dan segera berlari ke kereta. Abi bise menghela nafas dengan lega, kereta belum berangkat. Sekitar pukul 9.40an, kereta Eksekutif Argo Anggrek berangkat, walaupun sempat berhenti lama di stasiun manggarai, mungkin ada masalah karena banjir. Dan akhirnya hal ini berdampak ke jadwal kedatangan yang molor.
############

Akhirnya, sekitar pukul 17.00 abi sampai rumah eyang di semarang, setelah mandi, makan, sholat maghrib, abi dan eyang putri mengantar umi ke bidan. Setelah diperiksa ternyata masih bukaan 3, disuruh banyak jalan-jalan. Abi pun menemani di sana, tamapak jelas, umi mu menahan sakit yang luar biasa ketika terjadi kontraksi. Tapi umi mu nampak kuat, dia nggak berteriak-teriak, apalagi menampar atau mencubit. Cukup dengan menyuruh kami diam, dan tidak berbicara ketika dia merasakan kontraksi. Sambil memegang erat tangan abi,umi mu terus berdzikir sambil menahan sakit.
Kontraksi semakin lama semakin banyak dan intens, sekitar pukul  23.00 umi mu diperiksa  kembali, dan ternyata baru bukaan lima. Umi mu di suruh untuk istirahat, akan tetapi karena menahan rasa sakit yang luar biasa, umi mu tetap terjaga, Abi pun ikut terjaga mendampinginya. Semakin malam, semakin sering kontraksi,..samapi akhirnya umi mu di suruh pindah ke ruang bersalin sama bidannya. Abi pun hanya mendampingi sambil memegang tangan umi mu.
 Sekiar pukul 02.00 WIB, sudah mulai ada tanda-tanda akan melahirkan. Dikarenakan ruang bersalinnya sempit, dan bidan harus di bantu para asistennya, abi disuruh menunggu di luar. Perasaan abi saat itu campur aduk, tidak bisa mendampingi di dalam, walaupun aku masih bisa mendengar suara dari dalam ruang bersalin. Ketika suara aba-aba dari bidan untuk umimu menarik napas, mengejan, degup jantung abi pun berdegup dengan cepat, pasrah dan senantiasa berdoa untuk keselamatan umi dan kamu. Rasa lelah, kantuk, tak mampu mengalahkan kecemasan abi waktu itu, sedangkan eyangmu juga panik, berjalan mondar-mandir ingin melihat putrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya.
Dan akhirnya, sekitar pukul 02.40 suara tangisan itu mencairkan suasana, suara tangisan bayi yang sangat keras, alhamdulillah kamu lahir, sujud syukur pun langsung abi lakukan. Akhirnya abi diperbolehkan masuk, walaupun proses persalinan belum selesai, masih memotong tali pusar,dan mengeluarkan ari –ari. Betapa bahagianya abi ketika melihat kamu dipelukan umimu, berbalut handuk putih kamu menendang-nendang perut ibumu sambil mencari puting ibumu. Ibumu pun tersenyum bahagia melihat anaknya telah lahir, seorang laki-laki. Ku kecup kening ibumu, tampak senyuman-senyuman di bibirnya menutupi segala sakit dan kelelahan yang dialaminya.
Beberapa saat kemudian abi mengadzanimu, walaupun masih terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai hal ini, hanya satu keyakinan abi, bahwa hal yang ingin abi pertama kali perdengarkan kepadamu bukanlah pujian akan gantengnya anakku,miripnya anakku, akan tetapi adalah kalimat pujian,dan persaksian bahwa Allah lah Tuhanmu, Allah lah yang menciptakanmu.
Setelah itu, umi mu pun dibersihkan, abi terus mendapinginya, umimu sangat kelelahan, samapai dia pun terlelap dan tertidur. Nak, satu hal yang pasti, ibumu merasakan sakit yang amat sangat, itulah yang abi lihat, energinya terkuras habis.Nak, tahukah engkau tubuh manusia hanya dapat menahan rasa sakit hingga 45 del (unit) rasa sakit. Namun pada saat melahirkan, seorang ibu merasakan hingga 57 del (unit) rasa sakit. Ini setara dengan mengalami 20 patah tulang dalam satu waktu. Maha Suci Allah, sungguh luar biasa pengorbanan umi mu, berjuang antara hidup dan mati, maka kelak berbaktilah dengan sungguh-sungguh kepadanya, buat dia bangga karena melahirkanmu, buat dia bangga dengan kesholehanmu, jangan lah sekali-kali engaku mendurhakainya. Kelelahan abi mulai dari jakarta, tidak tidur malam, belum ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang dialami ibumu 26 jam terakhir hingga engkau lahir.Sekali lagi, hormatilah ibu mu nak!.Pagi itu, segera ku beritahukan kelahiranmu, kabar bahagia ini ke eyang mu di wonogiri, alhamdulillah, sekarang eyang punya cucu seorang laki-laki.
Nak, abi dan umi mu sangat bersyukur atas kelahiranmu, beberapa waktu yang lalu kami telah menyiapkan sebuah nama untuk mu. Mungkin Shakespeare pernah bialang” Apalah artinya sebuah nama”, tapi bagi kami, nama adalah wujud doa, harapan dan cita-cita. Kami berharap setiap panggilan terhadapmu adalah doa, dan ketika mengingat namamu maka mengingatkan akan cita-cita kehadiranmu kedunia. Sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist “Sesungguhnya kalian akan diseru pada hari kiamat dengan nama-nama  kalian dan nama-nama ayah kalian, maka perbaguslah nama kalian”. (HR Abu Dawud). Maka kami berusaha mencari nama yang baik untukmu, karena nama yang baik adalah hakmu.
Nak, kami memberimu nama MUHAMMAD RAFIF HIDAYAT, Muhammad menegaskan engkau adalah umat nabi Muhammad. Beliaulah panutanmu, beliaulah teladanmu, semoga engkau mampu meneladani sifat-sifat kebaikan beliau yang mulia. Sedangkan Rafif berarti orang yang berakhlak baik, ini adalah doa kami semoga kamu menjadi orang yang berakhlak baik, dan setiap orang yang memanggilmu ikut mendoakanmu menjadi orang yang berakhlak baik. Akhlak yang baik adalah buah dari keimanan, sebagaimana pohon tauhid yang akarnya kuat menghujam yang akhirnya menghasilkan buah berupa akhlak yang baik. Keimanan tidak ada nilainya tanpa akhlak. Inilah makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah dalam sabda beliau,Iman bukanlah dengan angan-angan, akan tetapi apa yang bersemayam di hati dan dibuktikan oleh perbuatan. (HR. Dailami dalam musanadnya).  Nak, di dalam sabda nya yang lain Rasulullah SAW Rasulullah pernah ditanya, “Apa agama itu?”Beliau menjawab, “Akhlak yang baik.”Kemudian beliau ditanya tentang kesialan. Beliau menjawab, “Akhlak yang buruk.” (HR. Ahmad). Sedangkan Hidayat adalah nama abimu, dan semoga dalam hidupmu senantiasa dinaungi hidayah dari Allah SWT.Aamiin.
Selamat datang anakku, MUHAMMAD RAFIF HIDAYAT, semoga engkau menjadi anak yang sholeh, menjadi anak yang ber akhlak baik, bermanfaat bagi keluarga,agama,masyarakat,bangsa dan negara.Aamiin

Read more »

Selasa, 27 November 2012

AKU DAN KH AHMAD DAHLAN

Pagi ini, setelah membaca Al-Qur’an beberapa lembar, aku pun penasaran membaca sebuah buku yang tergeletak di ruang tamu . Sambil menunggu waktu makan sahur, ku buka lembaran-lembaran buku itu, kubaca dan kulihat sekilas, hingga sampailah pada foto salah satu tokoh pahlawan Indonesia. KH Ahmad Dachlan, dengan Perserikatan Muhamadiyahnya. Dengan judul yang mencolok dan di tulis dengan ejaan lama, Persjarikatan Moehammadijah..ku amati satu per satu kata yang tertulis, kubaca kalimat demi kalimat yang terangkai menjadi sebuah paragraph cerita yang apik.
KH Ahmad Dachlan adalah pendiri Persjarikatan Moehamadijah. Di masa kecilnya bernama Mochammad Darwis bin Kiai Hadji Aboebakar, jika dilihat dari silsilahnya, beliau masih keturunan Maoelana Malik Ibrahim yang terkenal menjadi salah satu wali songo dalam sejarah perkembangan islam di Indonesia, lebih lanjut ternyata KH Achmad Dahlan adalah keturunan Rasulullah SAW melalui Al Moehadjir bin ‘Isa
KH Ahmad Dahlan terpanggil hatinya untuk menjawab tantangan kemiskinan structural masyarakat muslim korban penindasan system Tanam Paksa yang berlangsung 93 tahun (1830-1919M).Target aktivitas organisasi Persjarikatan Moehammadiyah adalah anak-anak yatim piatu. Dalam pandangan K.H Achmad Dachlan, system Tanam Paksa benar-benar meninggalkan kesengsaraan umat.
“Kondisi yang demikian menyedihkan tidak dapat dibiarkan. K.H. Achmad Dahlan membacakan kembali surah al-maun (QS 107:1-7), untuk membangkitkan kesadaran solidaritas kaum Muslimin terhadap saudaranya sesama Muslim yang terlanda derita menjadi fakir miskin dan yatim piatu, sebagai dampak dari Tanam Paksa, penindasan system pajak, dan penidasan lainnya dari pemerintah colonial Belanda,Apabila kaum muslimin tidak memedulikan nasib keduanya, mereka tidak ubahnya orang yang mendustkana agama islam (QS:107).”
Aku pun sedikit terhenyak, kata-kata ini kembali kubaca,kuamati tiap kalimatnya, satu paragraph yang ditulis oleh penulis buku ini membuatku seakan tertampar,tersindir...Aku pun melanjutkan membaca beberapa paragraf berikutnya
Untuk menyantuni kalangan dhuafa, dibentuklah Madlis Penolong Kesengsaraan Rakyat Oemoem (MPKO) pada 1918 M…
Dalam buku ini tidak membahas secara detail tentang biografi dan sejarah Muhamadiyah, buku karangan Ahmad Mansyur Suryanegara yang berjudul API SEJARAH  ini menceritakan tentang mahakarya ulama dan santri dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sang penulis menceritakannya dengan apik. Ahmad Mansur Suryanegara telah mendudukkan sejarah sungguh sebagai sejarah; bukan hanya catatan peristiwa masa lalu, melainkan peristiwanya itu sendiri, HISTORIA VITAE MAGISTRA, itulah yang diperhatikan guru besar ini. Buku yang cukup menarik dan menambah wawasan, memberikan sebuah gambaran sejarah Indonesia dengan sudut  yang lain.
Sehabis subuh, aku pun masih penasaran dengan sosok KH.Achmad Dahlan, ku cari lewat google tentang biografi tokoh ini.
KH Achmad Dahlan dibesarkan di lingkungan pesantren, pada umur 15 tahun ,beliau sudah naik haji ke Mekkah dan dilanjutkan menuntut ilmu di sana selama 5 tahun.
Aku pun terus membaca biografi singkatnya, dan aku berpikir, betapa hebatnya para pendahulu bangsa ini dalam memperjuangkan hak-hak mereka, betapa hebatnya mereka memperjuangkan hak-hak saudaranya, sungguh luar biasa.
Pagi ini aku sedikit mendapatkan sebuah inspirasi yang luar biasa dari seorang tokoh,seorang guru, seorang kyai, seorang pahlawan bangsa. 143 tahun yang lalu ,1 agustus 1868,lahir seorang tokoh bangsa,tokoh ulama ,tokoh pendidikan dari bangsa ini. Di perjalanan hidupnya, beliau mampu melahirkan karya-karya besar, bukan hanya bermanfaat bagi dirinya, akan tetapi juga bermanfaat untuk orang lain, agama dan bangsanya.
Lalu, bagaimanakah dengan aku?. 1 Agustus, 25 tahun lalu aku dilahirkan, akan tetapi belum ada sesuatu hal yang berarti yang bisa ku berikan, belum ada sebuah karya yang aku hasilkan. Menulis gagasan-gagasan pun aku masih kesulitan, belum banyak hal yang bisa kuberikan ke keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa ini.
Akan tetapi, salahkah aku jika aku mempunyai sebuah cita-cita sebagaimana cita-cita K.H Ahmad Dahlan?Salahkah aku jika aku mempunyai sebuah kegelisahan yang sama yang mungkin beliau rasakan juga. Memang, aku dilahirkan dari keluarga biasa, tidak dibesarkan dari keluarga santri atau pesantren, tidak dibesarkan dilingkungan Muhamadiyah, akan tetapi KH.Ahmad Dahlan , pagi ini menginspirasiku, untuk bisa berbuat lebih bagi orang lain, bisa  memberikan manfaat bagi orang lain.
Masalah bangsa ini juga menjadi masalah kita sebagai warga negaranya, keresahan bangsa ini adalah keresahan kita sebagai penduduknya. Salahkah, temen-teman kami yang hidup di pelosok desa menginginkan pendidikan yang lebih baik?salahkah teman-teman kami yang hidup di desa, yang makan nasi tiwul, yang mium air tajin untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik untuk menggapai cita-cita mereka?apakah orang-orang yang bisa makan roti dan minum susu saja yang berhak mendaptkan pendidikan yang baik?
Begitu banyak sarjana yang telah dihasilkan di negeri kita tercinta ini, begitu banyak kaum-kaum terpelajar yang menghuni negeri ini, akan tetapi kenapa kondisi bangsa kita masih seperti ini?. Bukankah mereka adalah orang-orang yang cerdas, orang-orang yang ahli? Tak sanggupkah para lulusan Sarjana yang cumlaude itu berkumpul untuk mencari solusi permasalahan negeri ini?
Ah..anda terlalu idealis,tidak realistis bung!..saya jadi teringat sebuah tulisan dari kakak sepupu saya,tentang Hutang Kaum Terpelajar? Apa benar kita tidak mampu? Beliau mengutip sebuah perkataan Mao Tse Tung” “ Datangilah orang-orang yang sedang bekerja, perhatikan dengan seksama. Kemudian pulanglah dan rumuskan dalam asas dan teori untuk engkau bawa kembali kepada mereka. Umumnya mereka bekerja hanya dengan landasan pengalaman dan kebiasaan, maka diharapkan dengan asas dan teori yang engkau rumuskan dapat membuat kerja mereka menjadi lebih baik”
Coba jika kita mempraktekkan apa yang diucapkan Mao tersebut di atas. Sarjana pertanian mau menyempatkan bagaimana petani bekerja kemudian berfikir dan mengemukaan solusi agar hasi lebih baik. Sarjana ekonomi menyempatkan ke pasar tradisional sekedar mengamati bagaimana para penjual tersebut bekerja. Mungkin dari sana muncul ide bagaimana mengelola secara lebih baik. Saya tidak berpretensi bahwa hal ini dapat dicapai dalam jangka waktu yang singkat. Tapi cobalah, kita menyempatkan untuk memperhatikan rakyat kita dan sedikit keringat dan konsentrasi semoga ada tawaran solusi. Tapi jelas kalau menyempatkan saja tidak mau, bagaimana akan bisa memberi solusi. Apalagi jika memperhatikan rakyat hanya sekedar memperhatikan rakyat dalam statistic.
Benar memang, perkataaan orang, bahwa “JASMERAH” Jangan lupakan sejarah!. Dengan sejarah kita bisa belajar, dengan sejarah kita bisa mengambil pelajaran, dengan sejarah kita bisa mengambil hikmah. Pagi tadi, dengan membaca buku sejarah seolah menamparku,mengingatkan ku, “Hai Taufiq! 25 tahun hidupmu di dunia, kamu sudah berbuat apa!berapa besar kemanfaatan yang telah kau berikan!”Aku hanya bisa diam tertunduk malu,aku akui, belum apa-apa,belum ada apa-apa.
Jika para kaum terpelajar dulu bahu membahu memperjuangkan kemerdekaan bangsanya?bagaimana dengan kita, yang mengaku Sarjana?tapi ternyata tak sebijak yang dikira, tak sebijak orang-orang diluar sana yang dengan segala keterbatasannya memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Jika konsekuensi iman adalah amal sholih, amalan apa yang sudah kita berikan? Jika sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain, kemanfaatan apa yang telah kita berikan?
Dimulai dari hal yang kecil, dimulai dari diri sendiri, dan dimulai saat ini juga.  Allah masih memberikan kesempatan hidup buat kita sampai saat ini, belum ada kata terlambat untuk berbuat, walaupun kecil.
25 Tahun Ya Rabbana
Hamba Hidup di dunia
Hamba Penuh Dosa
Hamba Mohon Ampun
1 Agustus 2011, dua puluh lima tahun hamba hidup di dunia, tetapi belum banyak amalan yang hamba perbuat.Semoga, Allah memberikan kekuatan untuk mencapai mimpi-mimpi hamba.Amin Ya Rabb.Sebuah Nasehat yang ditulis  KH.Ahmad Dahlan untuk beliau sendiri, yang saya adaptasi,semoga menjadi pengingat .
Wahai Taufiq, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Taufiq, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).


Jakarta,waktu dhuha,1 Ramadhan 1432 H/ 01 Agustus 2011
_refleksi perenungan diri,25 tahun hamba di dunia_
M.Taufiq Hidayat

.
Read more »

Senin, 08 Oktober 2012

BUKU BARU

Alhamdulillah telah terbit buku pertama saya, semoga dapat menginspirasi dan memberikan manfaat bagi sesama. Buruan di order, persediaan terbatas, sebagian hasil penjualan insyaallah akan di sedekahkan kepada anak yatim piatu, mari berbagi mari peduli, karena peduli adalah solusi
.
Read more »

Jumat, 14 September 2012

KAOSKU TERBALIK


Pagi itu, seperti biasa kuawali dengan beberapa aktivitas pribadi. Mandi dan menyetrika baju seragam putih untuk ke kantor,maklum baju putih yang kemarin sudah terlihat kotor terkena asap Metro Mini.Setelah mandi,ku bergegas memakai pakaian,dan sedikit berkaca di cermin untuk merapikan baju dan rambutku yang kelihatan jabrik acak-acakan,dikarenakan efek penebangan liar yang berlebihan beberapa bulan yang lalu,sehingga rambutku tampak berdiri menghadap langit.Setelah selesai, akupun segera berangkat ke kantor bersama rekan kantorku. Metro mini 75 tetap menjadi pilihan,bergerak merayap melintasi jalan di daerah mampang yang sangat padat.

Beberapa menit kemudian, sampailah aku di kantor, ku taruh tasku di ruangan sambil ngadem.Beberapa rekan kerjaku yang lain ternyata sudah datang.Seperti biasa kami beraktivitas di pagi itu,tak ada yang special. Hingga saat aku berdiri,da seorang rekan kerjaku ,seorang ibu-ibu mengingatkan ku,”eh..pakai kaos dalemnya kebalik ya?masak mereknya di depan?” Aku pun langsung mengeceknya,dan ternyata….memang benar-benar terbalik,..Ha..ha.ha..rekan yang lain pun tertawa terpingkal-pingkal.Wah ternyata sejak berangkat dari kost,dan naik Metro mini tadi ,aku sudah memakai kaos dalam terbalik,wkk…Aku pun bergegas ke belakang ,dan memakai kaos dalam itu dengan benar.Ha..ha emang konyol,padahal sebelum memakai baju putih tadi pagi sudah berkaca di depan cermin,tapi tetap saja aku nggak sadar telah melakukan ‘kekonyolan” seperti itu.

Sahabat, aku pun hanya bisa tersenyum ketika mengingat peristiwa hari itu. Seringkali kita merasa telah melakukan segalanya sebaik mungkin ,ternyata ada bagian tertentu yang terlewatkan.Seringkali kita sudah meluangkan waktu untuk bercermin diri,instrospeksi diri, melihat kekurangan dan kelebihan pribadi agar kita menjadi lebih baik.Akan tetapi masih saja ada beberapa hal yang belum sempat kita koreksi, belum sempat kita lihat. Di sinilah fungsi dan peran sahabat yang baik.Memberikan kritikan dan masukan buat kebaikan kita,memberikan pengingatan ketika kita salah,meberikan saran buat kebaikan diri kita.Karena walaupun kita telah bercermin diri,seringkali ada beberapa sudut yang belum kita lihat,dan sahabat kadangkala memberikan sebuah pandangan ataupun masukan terhadap sudut –sudut yang tidak terlihat itu.Tak perlu marah,tak perlu merasa malu ataupun gengsi untuk menerima saran yang baik, karena sejatinya, saran yang baik yang disampaikan sahabat kita itu adalah untuk membuat diri kita tetap baik dan menjadi lebih baik.Terimalah saran dari sahabat mu dengan lapang dada, terimalah segala masukan darinya,karena hanya teman yang baiklah yang mau mengingatkan kita agar tidak terjatuh ke lubang.Berterimakasih lah dan bersyukurlah jika kita dianugerahi sahabat-sahabat yang senantiasa ringan dalam memberi nasehat, mengingatkan ketika kita salah dan memberikan masukan buat kebaikan kita.
Terimakasih ..terimakasih, semoga Tuhan memberikan balasan kepada sahabatku semua yang rela memberikan masukan,saran,nasehat serta pengingatan kepada saya ,agar tetap berada dalam kebaikan dan menjadi lebih baik lagi.Terimakasih sahabat,…karena tak semua sudut tempat mampu ku lihat ketika aku bercermin.(top)
Read more »

BAPAK KU KO PAJA, IBUKU METRO MINI


Seperti biasa,sore itu ku bergegas keluar dari kantor. Dengan langkah agak gontai , kulangkahkan kakiku untuk menuju halte bis dekat mabes polri. Kebetulan saat itu badanku sedikit meriang.,,rasa capek, polusi dan sesaknya kota jakarta semakin membuatku ingin segera sampai di kost untuk istirahat.

Akhirnya tak berapa lama, yang ditunggu telah datang, metro mini 75…dengan warna dan bentuknya yang khas. Alhamdulillah dapat tempat duduk, lumayanlah walaupun bau dan agak kotor, masih lumayan nyaman. Sang sopir pun langsung tancap gas…wus..wus…, emang mungkin sopir metro mini punya bakat jadi pembalap, Siat…siut..belok kanan kiri….rem mendadak hal yg wajar…mengemudikan bus tua ditengah macet dan padatnya jalanan jakarta..salut deh buat pak sopir.

Ah dasar…setiap naik metro mini dan duduk, bawaannya ngantuk melulu, mata terasa berat..asap mengepul tak mampu mengalahkan rasa kantukku…setengah sadar, menikmati juga, lumayanlah dapat tidur di metro mini..he.he.

Sesampainya di lampu merah mampang prapatan, dapat ku tebak, disana nanti akan naik beberapa pengamen kecil. Eh benar…kali ini emang yang masuk dua anak kecil-kecil, lebih kecil dari biasanya. Dengan ceria dan sambil tertawa mereka berebut masuk duluan ke bis,,aku duluan,,aku duluan teriak mereka. Setelah keduanya masuk ke dalam metro mini, aksi panggung pun di mulai,,tanpa gitar tanpa alat, cukup dengan mulut, tepukan tangan dan beberapa amplop kosong. Mereka berdua mulai menyanyi..ku amati mereka…salah satunya masih sangat kecil, sekitar seumuran anak tk. “ asmala….”.satu kata yg kudengar dari mulut kecilnya. Dengan PD nya mereka nyanyi dengan ceria walau terdengar fales dan agak sedikit cedal mereka tetep melanjutkan menyanyi,,eh si kecil malah mengeraskan suaranya. Aku hanya bisa tersenyum….Sekitar 3 menit kemudian aku harus turun, tak lupa amplop sakti mereka kuserahkan, walaupun tidak banyak , semoga menjadi rejeki halal mu dik.’gumamku dalam hati’
Tak sempat ku tanya siapa namanya, tak sempat ku tanya berapa umurnya, sekolah kelas berapa, dimana rumahnya, siapa ibunya..aku pun turun dari bus, kulihat dari kejauhan,,mereka masih meneruskan aksi panggungnya..
Sambil berjalan menuju kost, sedikit ku berpikir dan merenung..alangkah beruntungnya diriku..walaupun dibesarkan di desa, ku tak pernah disuruh mengamen di waktu tk, aku masih dapat meraskan nikmatnya bermain,bersama teman-teman. Aku hanya bisa menghela nafas dalam –dalam. Pemandangan semacam ini biasa di temui di kota-kota besar negeri ini, apalagi Jakarta.
Sahabat..cobalah sejenak kita merenung, ..boleh jadi menjadi pengamen bukanlah keingnan dari anak itu. Ingin sekolah, ingin bermain,ingin mainan yang ini , ingin baju bagus..makan enak, anak kecil ini pun tentu menginginkannya. Akan tetapi di usianya yang terbilang masih balita, dibawah lima tahun dia harus berjuang untuk memperoleh uang. Kemiskinan..menjadi salah satu faktor utama, Si orang tua pun bahkan ada yang menyuruh atau mungkin memaksa anaknya yang masih kecil untuk mengamen di jalan dan bis kota. Ancaman bahaya kecelakaan,kekerasan,pemalakan,terus mengintai mereka, tak sebanding dengan apa yang mereka dapat. Berpeluh keringat, menghabiskan waktunya di jalan dan bis kota. Seolah –olah, jalanan, metromini dan kopaja adalah orang tua mereka, dikarenakan waktu bersama metro mini boleh jadi lebih banyak daripada waktu mereka bercengkrama dengan bapak ibunya. Padahal anak sekecil itu berada dalam fase hidup yng ingin bermain,membutuhkan kasih sayang yang lebih dari orang tuanya. Akan tetapi..faktor ekonomi dan kemiskinanlah yang kadang membuat orang tua tega memaksa anaknya yang masih balita untuk mencari makan untuk bertahan hidup. Bahkan karena kelemahan iman ..orang tuapun kadang tega membuang dan menelantarkan anak-anaknya.
Anak adalah anugerah dan titipan dari Tuhan, tak sepantasnyalah kita menyia-nyiakan amanat dari Tuhan. Alangkah malunya diri ini , belum bisa berbuat banyak untuk mereka ,di negeriku yang kucintai ini, masih begitu banyaknya balita dan anak-anak kecil yang tiap hari mereka menghabiskan waktunya di jalanan, tiap hari meraskan kelaparan , menghirup asap-asap hitam knalpot bus dan kendaraan. Berpeluh keringat,,menjajakan suara hanya untuk sekedar memperoleh uang untuk makan dan jajan.
Ya Allah, karuniakanlah kepada bangsa kami ini generasi-generasi yang kuat, sehingga pemandangan seperti ini sedikit demi sedikit hilang dari negeri kami. Semoga anak kecil tadi ketka aku tanya siapa nama bapak ibumu?dia tidak menjawab “ Bapakku Ko Paja dan ibuku Metro Mini”


#Jakarta,210710#
Read more »

 

Asyiknya Menjadi Ayah

SPIRIT OF LIFE

SETETES EMBUN KEHIDUPAN

Catatanku

SEKILAS INFO