Jumat, 14 September 2012

KAOSKU TERBALIK


Pagi itu, seperti biasa kuawali dengan beberapa aktivitas pribadi. Mandi dan menyetrika baju seragam putih untuk ke kantor,maklum baju putih yang kemarin sudah terlihat kotor terkena asap Metro Mini.Setelah mandi,ku bergegas memakai pakaian,dan sedikit berkaca di cermin untuk merapikan baju dan rambutku yang kelihatan jabrik acak-acakan,dikarenakan efek penebangan liar yang berlebihan beberapa bulan yang lalu,sehingga rambutku tampak berdiri menghadap langit.Setelah selesai, akupun segera berangkat ke kantor bersama rekan kantorku. Metro mini 75 tetap menjadi pilihan,bergerak merayap melintasi jalan di daerah mampang yang sangat padat.

Beberapa menit kemudian, sampailah aku di kantor, ku taruh tasku di ruangan sambil ngadem.Beberapa rekan kerjaku yang lain ternyata sudah datang.Seperti biasa kami beraktivitas di pagi itu,tak ada yang special. Hingga saat aku berdiri,da seorang rekan kerjaku ,seorang ibu-ibu mengingatkan ku,”eh..pakai kaos dalemnya kebalik ya?masak mereknya di depan?” Aku pun langsung mengeceknya,dan ternyata….memang benar-benar terbalik,..Ha..ha.ha..rekan yang lain pun tertawa terpingkal-pingkal.Wah ternyata sejak berangkat dari kost,dan naik Metro mini tadi ,aku sudah memakai kaos dalam terbalik,wkk…Aku pun bergegas ke belakang ,dan memakai kaos dalam itu dengan benar.Ha..ha emang konyol,padahal sebelum memakai baju putih tadi pagi sudah berkaca di depan cermin,tapi tetap saja aku nggak sadar telah melakukan ‘kekonyolan” seperti itu.

Sahabat, aku pun hanya bisa tersenyum ketika mengingat peristiwa hari itu. Seringkali kita merasa telah melakukan segalanya sebaik mungkin ,ternyata ada bagian tertentu yang terlewatkan.Seringkali kita sudah meluangkan waktu untuk bercermin diri,instrospeksi diri, melihat kekurangan dan kelebihan pribadi agar kita menjadi lebih baik.Akan tetapi masih saja ada beberapa hal yang belum sempat kita koreksi, belum sempat kita lihat. Di sinilah fungsi dan peran sahabat yang baik.Memberikan kritikan dan masukan buat kebaikan kita,memberikan pengingatan ketika kita salah,meberikan saran buat kebaikan diri kita.Karena walaupun kita telah bercermin diri,seringkali ada beberapa sudut yang belum kita lihat,dan sahabat kadangkala memberikan sebuah pandangan ataupun masukan terhadap sudut –sudut yang tidak terlihat itu.Tak perlu marah,tak perlu merasa malu ataupun gengsi untuk menerima saran yang baik, karena sejatinya, saran yang baik yang disampaikan sahabat kita itu adalah untuk membuat diri kita tetap baik dan menjadi lebih baik.Terimalah saran dari sahabat mu dengan lapang dada, terimalah segala masukan darinya,karena hanya teman yang baiklah yang mau mengingatkan kita agar tidak terjatuh ke lubang.Berterimakasih lah dan bersyukurlah jika kita dianugerahi sahabat-sahabat yang senantiasa ringan dalam memberi nasehat, mengingatkan ketika kita salah dan memberikan masukan buat kebaikan kita.
Terimakasih ..terimakasih, semoga Tuhan memberikan balasan kepada sahabatku semua yang rela memberikan masukan,saran,nasehat serta pengingatan kepada saya ,agar tetap berada dalam kebaikan dan menjadi lebih baik lagi.Terimakasih sahabat,…karena tak semua sudut tempat mampu ku lihat ketika aku bercermin.(top)
Read more »

BAPAK KU KO PAJA, IBUKU METRO MINI


Seperti biasa,sore itu ku bergegas keluar dari kantor. Dengan langkah agak gontai , kulangkahkan kakiku untuk menuju halte bis dekat mabes polri. Kebetulan saat itu badanku sedikit meriang.,,rasa capek, polusi dan sesaknya kota jakarta semakin membuatku ingin segera sampai di kost untuk istirahat.

Akhirnya tak berapa lama, yang ditunggu telah datang, metro mini 75…dengan warna dan bentuknya yang khas. Alhamdulillah dapat tempat duduk, lumayanlah walaupun bau dan agak kotor, masih lumayan nyaman. Sang sopir pun langsung tancap gas…wus..wus…, emang mungkin sopir metro mini punya bakat jadi pembalap, Siat…siut..belok kanan kiri….rem mendadak hal yg wajar…mengemudikan bus tua ditengah macet dan padatnya jalanan jakarta..salut deh buat pak sopir.

Ah dasar…setiap naik metro mini dan duduk, bawaannya ngantuk melulu, mata terasa berat..asap mengepul tak mampu mengalahkan rasa kantukku…setengah sadar, menikmati juga, lumayanlah dapat tidur di metro mini..he.he.

Sesampainya di lampu merah mampang prapatan, dapat ku tebak, disana nanti akan naik beberapa pengamen kecil. Eh benar…kali ini emang yang masuk dua anak kecil-kecil, lebih kecil dari biasanya. Dengan ceria dan sambil tertawa mereka berebut masuk duluan ke bis,,aku duluan,,aku duluan teriak mereka. Setelah keduanya masuk ke dalam metro mini, aksi panggung pun di mulai,,tanpa gitar tanpa alat, cukup dengan mulut, tepukan tangan dan beberapa amplop kosong. Mereka berdua mulai menyanyi..ku amati mereka…salah satunya masih sangat kecil, sekitar seumuran anak tk. “ asmala….”.satu kata yg kudengar dari mulut kecilnya. Dengan PD nya mereka nyanyi dengan ceria walau terdengar fales dan agak sedikit cedal mereka tetep melanjutkan menyanyi,,eh si kecil malah mengeraskan suaranya. Aku hanya bisa tersenyum….Sekitar 3 menit kemudian aku harus turun, tak lupa amplop sakti mereka kuserahkan, walaupun tidak banyak , semoga menjadi rejeki halal mu dik.’gumamku dalam hati’
Tak sempat ku tanya siapa namanya, tak sempat ku tanya berapa umurnya, sekolah kelas berapa, dimana rumahnya, siapa ibunya..aku pun turun dari bus, kulihat dari kejauhan,,mereka masih meneruskan aksi panggungnya..
Sambil berjalan menuju kost, sedikit ku berpikir dan merenung..alangkah beruntungnya diriku..walaupun dibesarkan di desa, ku tak pernah disuruh mengamen di waktu tk, aku masih dapat meraskan nikmatnya bermain,bersama teman-teman. Aku hanya bisa menghela nafas dalam –dalam. Pemandangan semacam ini biasa di temui di kota-kota besar negeri ini, apalagi Jakarta.
Sahabat..cobalah sejenak kita merenung, ..boleh jadi menjadi pengamen bukanlah keingnan dari anak itu. Ingin sekolah, ingin bermain,ingin mainan yang ini , ingin baju bagus..makan enak, anak kecil ini pun tentu menginginkannya. Akan tetapi di usianya yang terbilang masih balita, dibawah lima tahun dia harus berjuang untuk memperoleh uang. Kemiskinan..menjadi salah satu faktor utama, Si orang tua pun bahkan ada yang menyuruh atau mungkin memaksa anaknya yang masih kecil untuk mengamen di jalan dan bis kota. Ancaman bahaya kecelakaan,kekerasan,pemalakan,terus mengintai mereka, tak sebanding dengan apa yang mereka dapat. Berpeluh keringat, menghabiskan waktunya di jalan dan bis kota. Seolah –olah, jalanan, metromini dan kopaja adalah orang tua mereka, dikarenakan waktu bersama metro mini boleh jadi lebih banyak daripada waktu mereka bercengkrama dengan bapak ibunya. Padahal anak sekecil itu berada dalam fase hidup yng ingin bermain,membutuhkan kasih sayang yang lebih dari orang tuanya. Akan tetapi..faktor ekonomi dan kemiskinanlah yang kadang membuat orang tua tega memaksa anaknya yang masih balita untuk mencari makan untuk bertahan hidup. Bahkan karena kelemahan iman ..orang tuapun kadang tega membuang dan menelantarkan anak-anaknya.
Anak adalah anugerah dan titipan dari Tuhan, tak sepantasnyalah kita menyia-nyiakan amanat dari Tuhan. Alangkah malunya diri ini , belum bisa berbuat banyak untuk mereka ,di negeriku yang kucintai ini, masih begitu banyaknya balita dan anak-anak kecil yang tiap hari mereka menghabiskan waktunya di jalanan, tiap hari meraskan kelaparan , menghirup asap-asap hitam knalpot bus dan kendaraan. Berpeluh keringat,,menjajakan suara hanya untuk sekedar memperoleh uang untuk makan dan jajan.
Ya Allah, karuniakanlah kepada bangsa kami ini generasi-generasi yang kuat, sehingga pemandangan seperti ini sedikit demi sedikit hilang dari negeri kami. Semoga anak kecil tadi ketka aku tanya siapa nama bapak ibumu?dia tidak menjawab “ Bapakku Ko Paja dan ibuku Metro Mini”


#Jakarta,210710#
Read more »

Rabu, 12 September 2012

PEMAAF ADALAH SIFAT PARA PEMENANG


Di kisahkan, bahwa sahabat Nabi Abu Bakar As-Sidiq mempunyai seorang kerabat yang karena kemiskinannya maka sahabat Abu Bakar menanggung seluruh biaya hidupnya. Dia adalah sahabat Misthah bin Utsatsah. Akan tetapi ketika muncul sebuah peristiwa  berita dusta terhdap Aisyah ra , Abu Bakar pernah sangat marah terhadap Mistah Bin Utsatsah, karena sahabat ini turut andil  dalam  tesebarnya fitnah itu. Peristiwa ini terjadi ketika kaum muslimin dalam perjalanana pulang dari perang bani mustahaliq. Sampai akhirnya setelah peristiwa itu, Abu Bakar bersumpah” Demi Allah, saya tidak akan membiayainya lagi karena ucapan yang diucapkannya kepada Aisyah”. Abu Bakar bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak akan membiayai lagi Mistah Bin Utsatsah. Allah kemudian menurunkan firmannya : "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya). Orang –orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ QS An-Nur : 22
Ketika dibacakan ayat ini Abu Bakar lalu berkata : “ Demi Allah, sungguh aku ingin mendapatkan ampunan Allah, kemuadian Abu Bakar memaafkan Mistah Bin Utsatsah dan kembali menanggung biaya hidupnya. Mistah Bin Utsatsah seorang muhajirin dan juga ikut berperang dalam perang Badar, akibat perbuatannya dalam menyebarluaskan desas-desus berita fitnah tersebut dikenakan  hukuman dera (haddul qadzaf) sebanyak delapan puluh cambukan. Hukuman dera yang diterima Mistah Bin Utsatsah telah membersihakan dosanya itu.
Sahabat, sungguh mulia akhlak dari Abu Bakar,  beliau memaafkan Mistah Bin Utsatsah, orang yang turut andil akan tersebarnya desas desus yang menimpa putrinya Aisyah ra, padahal Mistah Bin Utsatsah adalah  orang yang selama ini dia tanggung biaya hidupnya. Seperti manusia biasa, Abu Bakar pun marah, bahkan beliau sampai bersumpah untuk tidak membiayai lagi Mistah bin Utsatsah, hingga akhirnya turun ayat dalam QS. An Nur ayat 22. Dalam surat tersebut di jelaskan agar Abu Bakar memaafkan dan berlapang dada, serta tetap memberikan bantuan kepada mistah agar Abu Bakar mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Kisah ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang bersegera memenuhi panggilan Allah untuk memaafkan. Beliau adalah orang yang bersegera tunduk dengan perintah Allah. Beliau tundukkan hawa nafsu enggan memaafkan karena telah tersakiti dan dikhianati, semata-mata mengharapkan ampunan Allah.
Sahabat, bagaimanakah dengan kita? pernakah anda merasa marah dan kesal atas kedhaliman orang lain terhadap diri kita?. Apa yang sahabat rasakan ketika kita mendapatkan cacian, fitnah ataupun perlakuan buruk dari orang yang selama ini kita bantu kesulitannya, kita selesaikan permasalahannya? Secara naluriah mungkin kita akan merasa sangat marah, hati kita menjadi bergejolak, timbul rasa keinginan yang kuat untuk membalas perlakuan orang yang telah mendholimi kita, bahkan bisa jadi seperti apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, kita bersumpah untuk tidak memberikan bantuan ataupun pertolongan kepadanya lagi.
Sahabat, memberi maaf dan berlapang dada seperti Abu Bakar dalam memenuhi  seruan dari Allah dalam surat An Nur:22 diatas bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan keimanan dan ketundukan kepada Allah SWT. Memberi maaf kepada orang yang mendholimi kita padahal orang itu adalah orang yang selama ini kita bantu, bukanlah perkara yang mudah. Butuh sebuah perjuangan untuk menundukkan emosi, dan hawa nafsu agar ia mampu menjadi seorang pemenang. Pemenang dari bentuk dendam dan emosi yang merupakan penyakit-penyakit hati.
Keteladanan Abu Bakar dalam menghadapi Misthah Bin Utsatsah yang masih kerabatnya sendiri, serta salah satu muhajirin dan sahabat yang ikut berperang dalam perang Badr perlu kita contoh. Jika saat ini, orang yang selama ini kita bantu anak-anaknya untuk belajar mengaji, orang yang kita bantu dengan berbagai pelayanan kesehatan gratis, berbagai acara bazaar sembako murah, berbagai bantuan bencana alam, orang yang kita bela hak-haknya, tetapi orang tersebut malah mencaci maki kita, memfitnah kita, mencibir kita, maka maafkan dan berlapang dadalah. Marilah kita tiru Abu Bakar, teruskan lah baksos-baksos itu, teruslah mengajar anak-anak belajar mengaji, teruslah mengajar majelis-majelis taklim, teruslah membela hak-hak kaum muslimin, teruslah cepat dan tanggap dalam membantu korban bencana alam, teruslah memberikan pelayanan kesehatan gratis, teruslah bantu mereka dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya, teruslah seperti itu, agar engkau menjadi pemenang dengan mengharapkan ampunan dari Rabb mu.
Sahabat, teruslah berbuat baik, teruslah menolong, teruslah bersikap baik sekalipun orang yang telah kita bantu mencaci dan mendholimi kita. Maafkan lah dan berlapang dadalah wahai sahabat, karena memberi maaf dan berlapang dada adalah sifat para pemenang, pantaskan diri kita menjadi hamba-hamba yang pemaaf , yakinlah akan janji Allah, bahwa kemenangan itu akan datang.
Wallahua’lam bi showab
Referensi : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy ,Sirah Nabawiyah. Robbani Press, 1999
Read more »

Selasa, 04 September 2012

JANGAN MARAH

Ada sebuah kisah dari seorang ayah bijak yang menasehati anak lelakinya yang suka marah-marah dan temperamental. Suatu pagi si anak diajak ke kandang sapi di samping rumahnya.” Nak, ayo kita tengok kandang sapi kita, sambil tolong bawakan sekarung paku dan jangan lupa bawa palunya”.” Siap yah, paku dan palunya sudah aku siapkan semua”.Bergegaslah ayah dan anak ini menuju kandang sapi di samping rumahnya, setibanya di sana sang ayah mengatakan”Anakku, jika engkau marah maka tanamkan paku di  pagar kandang sapi milik kita ini, semakin engkau marah,pukulah keras-keras paku itu,begitu seterusnya”.
Sejak saat itu, ketika si anak marah-marah kepada orang lain, dia membenamkan satu paku di pagar, semakin ia marah semakin keras ia pukul paku itu. Sebulan kemudian, dengan bangga dia menunjukkan hasil karyanya itu kepada ayahnya. “Ayah, nie hamper semua pagar di kandang sapi kita dah penuh dengan paku-paku yang aku tancap kan, hebat kan?!”. Sang ayah pun hanya tersenyum, sambil berkata “ Baiklah nak, sekarang jika kamu mampu menahan marah, atau bahkan bisa minta maaf kepada orang lain, cabut paku itu satu persatu, sanggup nggak?”.”Oke yah, aku sanggup”jawab si anak.
Sebulan kemudian, ayahnya bertanya”Sudahkah semua paku di cabut?”. Dengan mantab dan bangganya si anak menjawab”Tentu sudah dong yah. Sambil tersenyum, si Ayah mengajak anak laki-laki nya itu semakin mendekat ke pagar sambil berkata “ Nak, memang semua paku yang telah engkau tanam sudah dicabut, tapi lihatlah dengan seksama, bekas-bekas lubang paku itu masih terlihat dengan jelas. Hal itu berarti ketika kita marah, kita menanamkan luka yang dalam di hati orang tersebut, walapun akhirnya kita sudah meminta maaf,hal itu tetap meninggalkan luka hati yang menganga.
………………………………………………………………………………………………
Sahabat, tentunya anda pernah merasakan marah, sebuah rasa yang membuat diri kita tidak nyaman, sebuah rasa yang membuat dada kita seolah-olah sempit , sesak, urat-urat menegang, mata merah, rasa panas seolah-olah  ada bara yang menyala dalam dada kita. Marah adalah tabiat yang pasti ada dalam diri manusia, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimanakah cara kita melampiaskan kemarahan kita, apakah proporsional atau tidak, apakah pas atau tidak.
Kematangan emosi kita akan di uji saat kita mengalami gejolak emosi dan kemarahan, dengan apakah kita melampiaskannya,mampukah kita mengontrolnya?. Kadangkala karena ketidakmampuan kita mengontrol amarah, maka seringlah keluar umpatan-umpatan, tindakan-tindakan dan perangai kasar dari diri kita, dan itu menyakiti orang di sekitar kita. Betapa banyak kasus seorang suami menganiaya istrinya, seorang ayah menganiaya anak nya, seorang anak membunuh orang tuanya, seorang teman melukai sahabatnya, seorang atasan memaki dan mempermalukan bawahannya, itu semua terjadi karena kita kurang bisa mengontrol rasa marah ini. Mengobati luka paku yang telah di tancapkan bukanlah sebuah proses yang mudah, seringkali luka-luka itu menjadi sebuah dendam, menjadi sebuah kebencian yang semakin lama semakin besar, dan hal itu kadang tak cukup hanya dengan meminta maaf ataupun sungkem di hari raya.
Sahabat, sudah sepantasnyalah kita mnyadari bagaimana respon kita menghadapi kemarahan.Sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk mempunyai akhlak yang baik sebagai buah dari keimanan kita. Seorang muslim adalah orang yang mempunyai akhlak terpuji, berhias dengan kesabaran dan rasa malu, berpakaian tawadhu dan kasih sayang kepada sesama. Dalam dirinya terpancar tanda-tanda kejantanan, mampu menahan segala beban, pemaaf, serta mempunyai wajah yang berseri-seri dalam keadaan apapun.
Dan ternyata Rasulullah saw telah memberikan arahan kepada seorang sahabat yang meminta nasehat, dengan sebuah ungkapan dan nasehat yang sanga singkat” Jangan marah!”. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadist: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam“Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan, “Bukanlah maksud beliau adalah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kemarahan mempunyai dampak  negatif  terhadap diri kita sendiri dan masyarakat. Dampak negatif ini bersifat fisik, akhlak dan ruhiyah. Ketika kita marah, warna kulit berubah, tekanan darah naik, badan gemetar, gerakan kacau,suara meninggimembentak,mencaci dan boleh jadi mengeluarkan kata-kata yang diharamkan.Bahkan dalam buku Emosi Yang Mematikan, Don Colbert, MD, mengatakan bahwa kemarahan memiliki dampak terhadap munculnya penyakit- penyakit seperti hipertensi, sakit maag, jantung,tremor, dan bahkan kanker. Sedangkan dampaknya terhadap masyarakat kemarahan akan melahirkan rasa iri dan dendam, permusuhan antara karib kerabat, putusnya tali silaturahmi, kebencian yang menjalar, kerusuhan,tawuran, sehingga kehidupan masyarakat menjadi rusak dan hancur.
Sahabat, begitu hebat dan merusaknya dampak dari kemarahan yang tidak terkontrol,apa jadinya keluarga jika setiap anggota keluarganya selalu diliputi rasa marah, apa jadinya masyarakat jika setiap warganya diliputi ras dendam, rasa marah, apa jadinya sebuah negara jika seorang pemimpin, pejabat-pejabatnya selalu diliputi rasa benci dan dendam? Tentu akan timbul keruskan yang ada di bumi ini.

Tips Mencegah Marah
DR. Musthafa Dieb Al-Bugha dalam bukunya Al Wafie Fi  syarhil Arba’in An –Nawawiyah menyebutkan beberapa tips mencegah atau meredam kemarahan, diantaranya adalah :
1.               Melatih jiwa dengan akhlak terpuji, seperti sabar, lemah lembut, tidak tergesa-gesa dalam segala hal dan lain sebagainya.
2.               Mengingat-ingat dampak dari marah, keutamaan meredam amarah dan keutamaan memaafkan orang yang berbuat salah. Allah swt. Berfirman : “ Dan orang yang bisa meredam amarah dan memaafkan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berlaku ihsan.” (QS. Ali ‘Imron : 134).
3.               Ta’awudz, (mengucapkan Audzu billahi minasyaithonirrojiim).Allah swt. berfirman “ Dan jika engkau ditimpa godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( QS. Al-A’raf: 200)
4.               Mengubah Posisi
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)
5.               Menghentikan Bicara
Rasulullah saw . bersabda. “ Jika salah seorang diantara kamu marah maka diamlah.”Nabi saw. Mengucapkannya tiga kali” (HR.Imam Ahmad,Tirmidzi, dan Abu Dawud)
6.               Berwudhu.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya amarah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api. Jika seorang di antara kalian marah maka berwudhulah.” ( HR.Ahmad dan Abu Dawud).
Marah karena mencari keridhaan Allah swt
Marah yang harus dijauhi oleh setiap muslim adalah marah yang didasari dendam dan bukan untuk membela ajaran Allah swt. Adapun marah untuk membela agama Allah swt, atau membela kehormatan seorang muslim yang diinjak-injak, maka marah seperti ini diperbolehkan.Dalam riwayat Bukhori disebutkan bahwa Rasulullah saw lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pinangan. Jika beliau melihat sesuatu yang tidak disukai, makakami bisa mengetahui dari wajahnya.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah saw, tidak pernah marah. Namun jika larangan Allah dilanggar, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat meredam kemarahannya’ (HR.Bukhari, Muslim,dan yang lain).
Sahabat,sejenak marilah kita evaluasi diri kita, kita latih terus diri kita agar mampu menempatkan marah sesuai tempatnya, mampu mengontrol emosi sebagai ciri kematangan jiwa kita, Berfikir kembali, merenung, kenapa kita harus marah, dan apa dampak nya ketika kita marah. Cepat marah adalah tanda lemahnya seseorang, meskipun ia memiliki lengan yang kuat dan badan yang sehat sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda” Orang yang kuat, bukanlah karena jago dalam gulat. Orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah” (HR.Bukhari dan Muslim).Oleh karena itu sahabat, jadilah hamba-hamba Allah yang kuat, hamba Allah yang tidak mudah marah.Jangan Marah!
Wallahua’lam bi showab.

Read more »

 

Asyiknya Menjadi Ayah

SPIRIT OF LIFE

SETETES EMBUN KEHIDUPAN

Catatanku

SEKILAS INFO