Rabu, 12 September 2012

PEMAAF ADALAH SIFAT PARA PEMENANG


Di kisahkan, bahwa sahabat Nabi Abu Bakar As-Sidiq mempunyai seorang kerabat yang karena kemiskinannya maka sahabat Abu Bakar menanggung seluruh biaya hidupnya. Dia adalah sahabat Misthah bin Utsatsah. Akan tetapi ketika muncul sebuah peristiwa  berita dusta terhdap Aisyah ra , Abu Bakar pernah sangat marah terhadap Mistah Bin Utsatsah, karena sahabat ini turut andil  dalam  tesebarnya fitnah itu. Peristiwa ini terjadi ketika kaum muslimin dalam perjalanana pulang dari perang bani mustahaliq. Sampai akhirnya setelah peristiwa itu, Abu Bakar bersumpah” Demi Allah, saya tidak akan membiayainya lagi karena ucapan yang diucapkannya kepada Aisyah”. Abu Bakar bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak akan membiayai lagi Mistah Bin Utsatsah. Allah kemudian menurunkan firmannya : "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya). Orang –orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ QS An-Nur : 22
Ketika dibacakan ayat ini Abu Bakar lalu berkata : “ Demi Allah, sungguh aku ingin mendapatkan ampunan Allah, kemuadian Abu Bakar memaafkan Mistah Bin Utsatsah dan kembali menanggung biaya hidupnya. Mistah Bin Utsatsah seorang muhajirin dan juga ikut berperang dalam perang Badar, akibat perbuatannya dalam menyebarluaskan desas-desus berita fitnah tersebut dikenakan  hukuman dera (haddul qadzaf) sebanyak delapan puluh cambukan. Hukuman dera yang diterima Mistah Bin Utsatsah telah membersihakan dosanya itu.
Sahabat, sungguh mulia akhlak dari Abu Bakar,  beliau memaafkan Mistah Bin Utsatsah, orang yang turut andil akan tersebarnya desas desus yang menimpa putrinya Aisyah ra, padahal Mistah Bin Utsatsah adalah  orang yang selama ini dia tanggung biaya hidupnya. Seperti manusia biasa, Abu Bakar pun marah, bahkan beliau sampai bersumpah untuk tidak membiayai lagi Mistah bin Utsatsah, hingga akhirnya turun ayat dalam QS. An Nur ayat 22. Dalam surat tersebut di jelaskan agar Abu Bakar memaafkan dan berlapang dada, serta tetap memberikan bantuan kepada mistah agar Abu Bakar mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Kisah ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang bersegera memenuhi panggilan Allah untuk memaafkan. Beliau adalah orang yang bersegera tunduk dengan perintah Allah. Beliau tundukkan hawa nafsu enggan memaafkan karena telah tersakiti dan dikhianati, semata-mata mengharapkan ampunan Allah.
Sahabat, bagaimanakah dengan kita? pernakah anda merasa marah dan kesal atas kedhaliman orang lain terhadap diri kita?. Apa yang sahabat rasakan ketika kita mendapatkan cacian, fitnah ataupun perlakuan buruk dari orang yang selama ini kita bantu kesulitannya, kita selesaikan permasalahannya? Secara naluriah mungkin kita akan merasa sangat marah, hati kita menjadi bergejolak, timbul rasa keinginan yang kuat untuk membalas perlakuan orang yang telah mendholimi kita, bahkan bisa jadi seperti apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, kita bersumpah untuk tidak memberikan bantuan ataupun pertolongan kepadanya lagi.
Sahabat, memberi maaf dan berlapang dada seperti Abu Bakar dalam memenuhi  seruan dari Allah dalam surat An Nur:22 diatas bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan keimanan dan ketundukan kepada Allah SWT. Memberi maaf kepada orang yang mendholimi kita padahal orang itu adalah orang yang selama ini kita bantu, bukanlah perkara yang mudah. Butuh sebuah perjuangan untuk menundukkan emosi, dan hawa nafsu agar ia mampu menjadi seorang pemenang. Pemenang dari bentuk dendam dan emosi yang merupakan penyakit-penyakit hati.
Keteladanan Abu Bakar dalam menghadapi Misthah Bin Utsatsah yang masih kerabatnya sendiri, serta salah satu muhajirin dan sahabat yang ikut berperang dalam perang Badr perlu kita contoh. Jika saat ini, orang yang selama ini kita bantu anak-anaknya untuk belajar mengaji, orang yang kita bantu dengan berbagai pelayanan kesehatan gratis, berbagai acara bazaar sembako murah, berbagai bantuan bencana alam, orang yang kita bela hak-haknya, tetapi orang tersebut malah mencaci maki kita, memfitnah kita, mencibir kita, maka maafkan dan berlapang dadalah. Marilah kita tiru Abu Bakar, teruskan lah baksos-baksos itu, teruslah mengajar anak-anak belajar mengaji, teruslah mengajar majelis-majelis taklim, teruslah membela hak-hak kaum muslimin, teruslah cepat dan tanggap dalam membantu korban bencana alam, teruslah memberikan pelayanan kesehatan gratis, teruslah bantu mereka dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya, teruslah seperti itu, agar engkau menjadi pemenang dengan mengharapkan ampunan dari Rabb mu.
Sahabat, teruslah berbuat baik, teruslah menolong, teruslah bersikap baik sekalipun orang yang telah kita bantu mencaci dan mendholimi kita. Maafkan lah dan berlapang dadalah wahai sahabat, karena memberi maaf dan berlapang dada adalah sifat para pemenang, pantaskan diri kita menjadi hamba-hamba yang pemaaf , yakinlah akan janji Allah, bahwa kemenangan itu akan datang.
Wallahua’lam bi showab
Referensi : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy ,Sirah Nabawiyah. Robbani Press, 1999

0 komentar:

Posting Komentar

 

Asyiknya Menjadi Ayah

SPIRIT OF LIFE

SETETES EMBUN KEHIDUPAN

Catatanku

SEKILAS INFO